Cara Menyetubuhi Ibu Kandung

Cara Menyetubuhi Ibu Kandung

Aku Ayman Abu Aita. Cowok biasa, 22 tahun, tinggal berdua sama mama di rumah besar yang dulu dibeli ayah sebelum meninggal waktu aku masih kecil. Mama namanya Sekar. Usianya 44 tahun, tapi tubuhnya… astaga. Subur. Dada montok yang selalu bergoyang pelan tiap dia jalan, pinggul lebar, pantat bulat yang kencang meski udah agak berisi, dan kulitnya halus banget. Wajahnya biasa aja, tapi tubuhnya bikin aku sering salah fokus.

Kami berdua deket banget. Sejak kecil, aku suka main gulat-gulatan sama mama. Dia suka ngeledek aku lemah, aku suka balas dorong dia sampai ketawa-ketawa. Hari itu, Jumat sore, kami lagi main renang bareng di kolam belakang rumah. Aku cuma pakai kolor hitam tipis, mama pakai bikini hitam yang ketat banget, nempel di tubuhnya yang subur. Air kolam dingin, tapi panasnya badan kami berdua bikin semuanya terasa berbeda.

Kami mulai bergulat seperti biasa. Mama dorong aku, aku tarik pinggangnya. Tiba-tiba dia kehilangan keseimbangan, kepalanya nabrak keras ke selangkanganku. Aku langsung refleks cengkeram tubuhnya erat-erat supaya gak jatuh. Tangan kananku tanpa sengaja meremas dada kirinya yang penuh dan empuk. Susunya berat, lembut, dan aku bisa rasain putingnya langsung mengeras di telapak tanganku lewat kain bikini yang tipis.

Mama menggeliat hebat, berusaha lepas. Pantatnya yang montok bergesek-gesek keras di kontolku. Aku kunci pinggangnya dengan kakiku, tanganku makin dalam meremas susunya. Gesekan kulit basah pantatnya ke kontolku yang cuma dibalut kolor tipis bikin darahku langsung naik ke kepala. Kontolku ngaceng keras dalam sekejap. Kepalanya menekan kain kolor, menonjol jelas, berdenyut-denyut.

Mama akhirnya menyerah. Napasnya tersengal-sengal. Dia liat ke bawah, ke selangkanganku yang sudah jelas banget tonjolannya. Matanya membesar sebentar, lalu dia tersenyum kecil, suaranya agak serak, “Anak Mama… udah gede banget ya sekarang…”

Aku langsung malu. Tapi ada sesuatu di mata mama — campuran kaget, geli, dan… entah apa. Malam itu, buat pertama kalinya, aku coli sambil bayangin mama. Bayangin susunya yang empuk, pantatnya yang menggesek kontolku, dan bau keringat manisnya yang masih nempel di hidungku. Aku keluar banyak banget sampai perutku basah.

Sejak hari itu, pandanganku ke mama berubah total.

Aku mulai sering nyuri CD yang dia pakai seharian. Bau memeknya yang manis-asin bikin aku gila. Tiap mama lagi kerja atau belanja, aku buka lemari bajunya. Gosok-gosok kontolku di bra-nya yang masih hangat, di celana dalamnya yang masih ada noda putih kering. Kadang aku cium dalam-dalam, lidahku menjilat kainnya sambil ngocok pelan-pelan. Aku tahan sampai hampir keluar, lalu berhenti. Aku mau nikmatin lama.

Suatu hari aku nemu vibrator di laci bawahnya. Benda pink panjang, masih agak lengket. Aku langsung jilati. Rasa asin-manis memek mama langsung meledak di lidahku. Aku hisap bersih, lalu ngocok kontolku sambil bayangin itu memek mama yang asli. Pas mau keluar, aku olesin pejuku tebal-tebal ke vibrator itu, masukin lagi ke dalam laci. Bayangin mama nanti pake itu sambil memeknya penuh peju anaknya sendiri.

Tiap malam aku ngintip. Tiap dia duduk di sofa ngangkang sedikit, tiap dia jongkok ambil barang, aku bayangin langsung nyembur di situ. Nafsu ini makin gila. Aku sering mikir: “Gimana ya rasanya nyentuh memek mama beneran? Gimana ya kalau kontolku masuk ke dalamnya?”

Aku rencanain semuanya selama hampir dua minggu. Pisau dapur, kain hitam buat tutup mata, tali buat ikat tangan — semua aku siapin. Jantungku berdegup kenceng tiap bayangin. Aku takut, tapi nafsu lebih besar. Aku mau mamaku. Aku mau memiliki dia sepenuhnya.

Jumat sore itu tiba.

Aku berdiri di balik pintu, tangan kiri pegang pisau, jantung mau copot. Begitu mama masuk rumah, aku langsung bekap mulutnya dari belakang. Pisau aku tempel pelan di lehernya yang putih halus.

“Diam! Kalau gak mau mati, nurut aja,” suaraku aku samarin jadi serak dan kasar.

Mama gemetar hebat. Tubuhnya kaku. Aku dorong dia ke tembok, tutup matanya rapat-rapat dengan kain hitam, ikat tangannya di belakang. Lalu aku bawa dia ke ruang tamu, dudukkan di sofa. Rok kerjanya naik sedikit, paha putihnya kelihatan. Aku duduk di sampingnya, pisau masih di leher, tangan kiriku mulai mengelus paha mulusnya yang dingin karena ketakutan.

Kulitnya halus banget. Aku elus pelan dari lutut naik ke atas, pelan sekali. Mama gemetar, napasnya cepat. “Jangan… tolong… ambil uang aja…” pintanya lemah.

Aku bisik kasar, “Sekali lagi lu ngomong tanpa disuruh, lu bakal gw sikat sampe mati.”

Tangan aku terus naik. Masuk ke dalam rok. Sentuh CD-nya yang sudah agak lembab karena keringat dan ketakutan. Jari aku elus-elus belahan memeknya dari luar kain. Mama menggeliat pelan, napasnya makin berat. Aku angkat roknya tinggi-tinggi, lalu tarik CD-nya pelan-pelan sampai ke lutut. Akhirnya… memek mama yang selama ini aku impikan terpampang di depanku.

Jembutnya agak lebat, rapi, bibir memeknya tebal dan sudah sedikit mengkilap. Aku hirup dalam-dalam. Bau memek mama yang khas — manis, asin, sedikit keringat — langsung bikin kontolku sakit karena terlalu keras. Aku kecup CD yang masih hangat, lalu cium langsung memeknya. Lidahku menyelinap pelan, menjilat belahan itu dari bawah ke atas. Mama mendesah pelan sekali, “Hhh… jangan…”

Aku buka lebar pahanya, angkat pinggulnya sedikit, lalu jilati lebih dalam. Cairannya mulai keluar banyak. Manis di lidahku. Aku hisap itilnya yang sudah mengeras. Mama menggelinjang, pinggulnya bergerak pelan mengikuti lidahku.

Tapi aku belum puas. Aku pura-pura ada “teman”. Aku samarin suara lagi, “Anak lu ikut gabung nih. Kalau lu gak nurut, dia yang kena.”

Mama langsung panik. “Jangan lukai anakku! Aku lakuin apa aja!”

Aku lepas ikatan tangannya. Tarik dia ke ujung sofa. Aku berdiri di depannya, lepas kolor, kontolku yang keras dan berdenyut langsung mengenai pipinya. Mama ragu sebentar, tapi tangannya gemetar meraih batang kontolku yang panas. Dia pandu ke mulutnya yang hangat dan basah.

“Ohhh… Mama…” desahku dalam hati.

Mulut mama panas. Lidahnya pelan menjilat kepala kontolku yang sudah basah precum. Lalu dia hisap pelan. “Kontol anak Mama… keras banget…” gumamnya sambil mulai lebih agresif. Dia telan dalam-dalam, tenggorokannya bergetar di kepala kontolku. Suara slurp-slurp basah memenuhi ruangan. Mama mendesah nakal, “Enak gak nak? Mama suka kontol gede anak Mama ini…”

Aku tahan sebisa mungkin, tapi akhirnya meledak. “Mah… Ayman mau keluar… ahhh!!”

Pejuku muncrat deras di dalam mulut mama. Banyak banget. Mama telan semua, hisap sampe bersih, lidahnya membersihkan setiap inci. “Enak banget peju anak Mama… manis…” katanya sambil tersenyum meski mata masih tertutup.

Aku belum selesai. Aku suruh mama berdiri, lepas semua bajunya satu per satu. Susunya montok bergoyang, putingnya coklat gelap mengeras. Perutnya agak berlemak lembut, pantat besar, memek yang sudah banjir. Aku suruh dia muter pelan di depanku. Aku nikmatin setiap lekuk tubuhnya yang telanjang.

Lalu aku suruh dia nunjukin memeknya ke “anaknya”. Mama malu, tapi nafsunya udah naik. Dia buka lebar pahanya, jari-jarinya membuka bibir memeknya yang merah basah. “Lihat nak… memek Mama udah basah banget gara-gara kontolmu…”

Aku nyusu susunya. Hisap putingnya keras, gigit pelan. Tangan kananku dua jari masuk ke memeknya yang panas dan licin. Mama mendesah keras, “Aaaahh… nak… enak… jari anak Mama dalem banget… ahhh… Mama mau…!”

Aku taruh mama telentang di lantai. Aku rangkak di antara pahanya yang terbuka lebar. Kontolku menggesek-gesek memeknya yang licin. Mama sendiri yang meraih kontolku, arahkan ke lubangnya yang menganga.

“Masukin nak… entot Mama… entot memek Mama yang ngidam kontol anaknya sendiri…” bisiknya penuh nafsu.

Aku tusuk pelan. Kepala kontolku masuk, lalu seluruh batangnya merasuk dalam sekali hentak. Memek mama panas, sempit, berdenyut-denyut mencengkeram kontolku. “Aaaahhh!!! Besar banget nak… memek Mama penuh… enak sekali!!”

Aku ngentot pelan dulu, lalu makin cepat. Suara plok-plok-plok basah memenuhi ruangan. Susunya bergoyang liar. Mama memeluk kepalaku, kakinya melingkar di pinggangku. “Entot Mama lebih keras nak! Mama mau keluar… ahhh… ahhh… Ayman… anak Mama… entot memek Mama!!”

Memeknya mengejang hebat, cairannya muncrat basahi kontolku. Aku juga gak tahan. “Mah… Ayman mau muncrat di dalem…!”

“Keluarin nak! Isi memek Mama penuh peju anak sendiri!!” jerit mama.

Pejuku meledak dalam-dalam di rahimnya. Panas, kental, banyak sekali. Kami orgasme bareng, tubuh bergetar hebat.

Beberapa hari kemudian, kami pura-pura biasa. Tapi nafsu udah kebakar. Suatu malam mama masuk ke kamarku. Kami ngobrol pelan, lalu pelukan berubah jadi ciuman panas. Mama yang duluan agresif.

Dia buka baju, duduk di mukaku. Memeknya yang masih bau peju kemarin langsung aku jilati dalam-dalam. Mama ngocok kontolku sambil mendesah, “Jilati memek Mama nak… enak… lidah anak Mama enak banget…”

Kami 69. Aku jilat memeknya sampe dia muncrat di wajahku, dia hisap kontolku sampe tenggorokannya penuh. Lalu mama naik ke atas, memasukin kontolku pelan-pelan ke memeknya yang sudah banjir lagi.

“Lihat nak… kontol anak Mama lagi ngentot memek Mama… enak ya? Kita sekarang pasangan terlarang… Mama ketagihan kontolmu…”

Mama naik turun liar. Susunya bergoyang di depan mukaku. Aku remas pantatnya, tepuk-tepuk. Kami ngentot berjam-jam. Ganti posisi berkali-kali. Pejuku keluar berkali-kali di dalam memek mama, di mulutnya, di susunya.

Sejak itu, kami ketagihan. Tiap malam, tiap ada kesempatan, memek mama selalu penuh kontol anaknya sendiri. Kami gak peduli dosa lagi. Yang ada cuma kenikmatan terlarang yang bikin kami gila bareng.

…Mama sudah telentang di lantai ruang tamu, kakinya terbuka lebar, lutut ditekuk. Matanya masih tertutup kain hitam, tapi napasnya sudah berat dan tidak beraturan. Aku berlutut di antara pahanya yang putih dan gemuk. Kontolku berdiri tegak, kepalanya mengkilap penuh precum, urat-uratnya menonjol karena terlalu keras. Tangan kananku memegang batang kontolku sendiri, tepat seperti di gambar itu.

Aku menunduk, mata aku fokus ke bawah. Memek mama terpampang jelas di depan mata. Jembut hitam lebatnya yang rapi tapi tebal mengelilingi bibir memeknya yang sudah membengkak dan basah. Bulu-bulu halus itu basah oleh cairan yang keluar dari dalam, mengkilap di bawah cahaya lampu ruang tamu. Bibir memeknya tebal, merah muda di bagian dalam, dan sudah terbuka sedikit karena nafsu yang sudah tidak bisa ditahan lagi. Lubangnya kecil tapi berdenyut-denyut, mengeluarkan cairan bening yang kental, menetes pelan ke celah pantatnya.

Aku pegang kontolku lebih erat. Jari-jari tangan kananku melingkar di batangnya yang tebal, ibu jariku menekan sedikit di bawah kepala kontol yang mengkilap. Pelan sekali aku majukan pinggulku. Kepala kontolku yang pink dan licin menyentuh bulu jembut mama yang kasar tapi lembut. Sensasinya gila — bulu-bulu itu menggelitik kepala kontolku, basah dan hangat. Aku gesekkan pelan ke atas-bawah, membiarkan kepala kontolku menyapu seluruh belahan memeknya yang basah.

“Hhh… nak…” desah mama pelan, pinggulnya bergerak kecil tanpa sadar.

Aku terus gesekkan. Sekarang kepala kontolku sudah tepat di depan lubang memeknya. Aku tekan pelan. Bibir memeknya yang tebal membuka sedikit, membiarkan kepala kontolku masuk sedikit demi sedikit. Rasanya seperti masuk ke dalam sarung yang panas, lembab, dan hidup. Dinding memek mama langsung mencengkeram kepala kontolku, berdenyut-denyut, seolah meminta lebih.

Aku berhenti sebentar. Cuma kepala kontolku yang masuk. Aku tatap lagi ke bawah — persis seperti gambar yang kamu kirim. Kontolku yang pink mengkilap setengah masuk ke memek mama yang berjembut lebat. Tangan kananku masih memegang batangnya, ibu jariku menekan pelan, membantu mengatur sudut. Bulu jembut hitam mama mengelilingi batang kontolku, beberapa helai menempel di cairan yang keluar dari pertemuan kami. Memeknya terlihat sangat penuh, bibirnya meregang mengikuti bentuk kontolku.

“Gimana rasanya, Mah…?” bisikku serak, suaraku sudah tidak bisa aku samarkan lagi.

Mama menggigit bibir bawahnya. “Besar… panas… pelan-pelan nak… Mama takut tapi… enak sekali…”

Aku dorong lagi, pelan banget. Satu senti demi satu senti. Kontolku masuk lebih dalam. Dinding memek mama yang licin dan panas merangkul batangku erat. Aku bisa rasain setiap lipatan di dalamnya. Cairannya makin banyak, mengalir keluar, membasahi bulu jembutnya dan batang kontolku sampai ke pangkal. Suara basah kecil terdengar tiap aku gerak — “sluuup… sluuup…”

Tangan kananku masih memegang batang kontolku, sekarang sudah lebih dalam. Aku tarik sedikit ke belakang, lalu dorong lagi, masuk lebih dalam. Setiap kali aku tarik, bibir memek mama ikut keluar sedikit, menjepit kontolku seperti gak mau lepas. Setiap kali aku dorong, bulu jembutnya bergesekan dengan kulit perutku yang mulai berkeringat.

Aku terus gerak pelan-pelan, setengah kontolku sudah masuk. Aku tatap lagi ke bawah — pemandangannya bikin aku hampir gila. Kepala kontolku yang pink mengkilap basah oleh cairan mama, batangnya yang tebal terbenam di antara jembut hitam yang lebat. Tangan kananku masih di sana, memegang pangkal kontol, membantu mendorong masuk lebih dalam. Memek mama sudah benar-benar penuh, bibirnya meregang maksimal mengelilingi batangku.

“Uhh… nak… dalem banget…” mama mendesah panjang, pinggulnya mulai bergerak naik-turun pelan mengikuti iramaku.

Aku lepas tangan dari kontolku. Sekarang seluruh batangku sudah masuk dalam-dalam. Pangkal kontolku menekan bulu jembut mama yang basah. Aku rasain ujung kontolku menyentuh dinding paling dalam memeknya. Panas. Berdenyut. Basah sekali.

Aku mulai gerak ritmis. Bukan cepat. Masih pelan, tapi dalam. Setiap hentakan, kontolku keluar sampai hampir ujung, lalu masuk lagi sampai pangkal. Suara “plok… plok… plok…” basah mulai terdengar lebih jelas. Cairan mama muncrat kecil tiap aku dorong masuk. Bulu jembutnya sekarang basah kuyup, menempel di kulit kontolku dan perutku.

Mama mulai mendesah lebih keras. “Ahh… ahh… enak nak… entot Mama pelan-pelan gini… Mama ngerasa banget kontol anak Mama di dalam… penuh sekali…”

Aku tunduk lebih dalam, tangan kiriku meremas susu mama yang bergoyang-goyang setiap hentakan. Putingnya keras seperti batu. Aku hisap puting itu sambil terus ngentot pelan. Mama memeluk kepalaku, kakinya melingkar di pinggangku, tumitnya menekan pantatku, mendorong aku lebih dalam.

Aku percepat sedikit. Sekarang hentakanku lebih kuat tapi tetap terkontrol. Setiap kali kontolku masuk penuh, kepalaku menyentuh rahimnya. Memeknya mengejang-ejang, mencengkeram kontolku seperti mau memerasnya. Cairannya makin banjir, membasahi bola-bolaku yang bergoyang di bawah.

“Mah… Ayman mau keluar…” aku bisik di telinganya, suaraku sudah gemetar.

“Keluarin nak… di dalam aja… isi memek Mama… Mama mau peju anak Mama… ahhh… sekarang!!”

Aku dorong sekali lagi yang paling dalam. Kontolku berdenyut hebat di dalam memeknya. Pejuku meledak. Semburan panas, kental, dan banyak sekali menyembur langsung ke rahim mama. Satu… dua… tiga… sampai tujuh kali semburan kuat. Mama menjerit kecil, memeknya mengejang hebat, cairannya muncrat keluar membasahi kontolku dan perutku. Tubuhnya kejang-kejang di bawah tubuhku.

Kami berdua orgasme bareng, napas kami tersengal-sengal. Kontolku masih di dalam memeknya yang berdenyut-denyut, masih meneteskan sisa peju. Aku tarik pelan, keluar dari memek mama. Ada benang peju yang memanjang dari kepala kontolku ke lubang memeknya yang masih terbuka sedikit. Bulu jembutnya sekarang benar-benar basah kuyup oleh campuran cairan kami berdua.

Aku ambruk di sampingnya. Mama masih gemetar. Dia angkat tangannya yang masih terikat, meraba wajahku.

“Nak… itu kamu ya?” suaranya pelan, tapi ada nada yang berbeda — bukan takut lagi, tapi… penuh nafsu.

Aku diam. Lalu pelan-pelan aku lepas ikatan dan tutup matanya.

Mama membuka mata. Dia liat aku. Bukan marah. Matanya berkaca-kaca, tapi bibirnya tersenyum kecil. “Kamu… anak Mama yang nakal…”

Dia tarik aku ke pelukannya. Susunya menempel di dada ku. “Tapi… enak sekali. Mama gak nyangka…”

Malam itu kami tidak berhenti di situ saja.

Beberapa jam kemudian, setelah kami mandi bareng dan minum air, mama tarik aku ke kamarnya. Kali ini tanpa sandiwara. Dia dorong aku tidur telentang, lalu naik ke atas tubuhku. Memeknya yang masih basah dan penuh peju tadi langsung dia gesek-gesek di kontolku yang sudah bangkit lagi.

“Kali ini Mama yang ngentot kamu,” bisiknya sambil tersenyum nakal.

Dia angkat pinggulnya, tangannya memegang kontolku persis seperti tangan di gambar tadi, lalu pelan-pelan menurunkan dirinya. Aku lagi-lagi bisa liat close-up yang sama — kontolku masuk pelan ke memek berjembut lebat mama, bibirnya meregang, cairan kami berdua keluar lagi.

Kami ngentot sampai subuh. Ganti posisi berkali-kali. Doggy di kasur, mama nungging sambil memeknya terlihat dari belakang, jembutnya basah kuyup. Missionary sambil berciuman dalam. Cowgirl sambil susunya bergoyang liar di depan mukaku.

Sejak malam itu, kami tidak bisa berhenti. Tiap malam, tiap pagi sebelum kerja, tiap ada kesempatan kosong di rumah — memek mama selalu penuh kontol anaknya sendiri. Kami ketagihan. Dosa? Kami gak peduli lagi. Yang ada cuma kenikmatan terlarang yang bikin kami berdua gila.

…Kami berdua masih tergeletak di lantai ruang tamu, napas tersengal-sengal, tubuh basah keringat dan cairan. Kontolku masih setengah keras di dalam memek mama yang berdenyut-denyut, peju kami bercampur mengalir keluar pelan dari bibir memeknya yang sudah merah dan bengkak. Mama memelukku erat, susunya yang montok menempel di dada ku, putingnya masih keras menggesek kulitku.

“Nak… kita… basah banget,” bisik mama sambil terkekeh pelan, suaranya serak karena jeritan tadi. “Ayo mandi bareng… Mama gak mau anak Mama kedinginan.”

Aku ngangguk, masih belum bisa bicara banyak. Aku tarik kontolku pelan dari memeknya. Ada suara “sluuup” basah yang bikin kami berdua menggigil. Benang peju memanjang sebentar sebelum putus. Mama berdiri goyah, roknya masih naik ke pinggang, CD-nya entah hilang di mana. Aku juga bangun, kontolku masih basah mengkilap, bergoyang-goyang tiap langkah.

Kami berjalan pelan ke kamar mandi di belakang rumah. Tangan mama memegang tanganku erat, seperti takut ini semua cuma mimpi. Lampu kamar mandi menyala otomatis saat kami masuk. Ubin putih dingin, cermin besar di atas wastafel, shower di kiri, dan toilet di pojok.

Mama langsung buka keran air hangat di shower. Uap mulai naik pelan. Tapi sebelum mandi, dia tarik aku ke toilet. “Duduk dulu nak… Mama mau liat kamu.”

Aku duduk di tutup toilet yang dingin. Kontolku masih setengah tegang, basah peju. Mama berdiri di depanku sebentar, lalu pelan-pelan dia naik ke pangkuanku. Persis seperti foto ini. Dia duduk menyamping di pangkuanku, pantatnya yang montok dan masih basah menekan paha serta kontolku. Kakinya terbuka sedikit, green leggings-nya yang ketat masih melekat di paha tebalnya, tapi sudah agak diturunkan sampai ke bawah lutut. Beige lace top-nya yang transparan masih dipakai, susunya yang montok terlihat jelas dari balik renda, putingnya menonjol keras.

Aku bersandar ke dinding keramik yang dingin, dada telanjangku naik-turun. Mama menoleh ke arahku, rambut hitam panjangnya jatuh ke bahu, matanya masih berkaca-kaca tapi penuh nafsu. Bibirnya tersenyum kecil, tangan kirinya bertumpu di pahaku yang telanjang, jari-jarinya pelan mengusap kulitku naik ke arah kontol.

“Kamu… anak Mama yang nakal banget,” bisiknya sambil menatapku dalam-dalam. “Tapi Mama suka… Mama ketagihan sekarang.”

Aku tersenyum malu-malu tapi kontolku langsung berdenyut lagi di bawah pantatnya. Tangan kananku naik ke pinggangnya, meremas pelan pinggul yang lebar itu. Kulitnya masih hangat dan licin dari keringat tadi. Aku gesekkan hidungku ke lehernya, menghirup bau campuran parfum mama, keringat, dan bau sex yang masih menempel.

“Mama… enak banget tadi,” kataku pelan di telinganya. “Memek Mama… panas banget… Ayman mau lagi.”

Mama terkekeh kecil, lalu menggesekkan pantatnya pelan ke kontolku yang sudah mulai keras lagi. Green leggings-nya yang tipis dan berlubang-lubang itu bikin gesekannya terasa kasar tapi nikmat. Aku bisa rasain kehangatan memeknya yang masih banjir melalui kain tipis itu.

“Kita mandi dulu ya… tapi Mama mau dulu sebentar,” bisiknya nakal.

Dia angkat pinggulnya sedikit, tangan kanannya meraih kontolku yang sudah tegak sempurna. Dia pegang batangnya erat, ibu jarinya mengusap kepala kontol yang masih lengket peju dan cairan memeknya sendiri. Lalu pelan-pelan dia arahkan ke memeknya yang masih terbuka. Green leggings-nya ditarik ke samping cukup untuk memberi jalan.

Kepala kontolku menyentuh bibir memeknya lagi. Basah. Panas. Berjembut. Mama menurunkan pinggulnya perlahan… sangat perlahan… persis seperti tadi di ruang tamu. Aku bisa rasain setiap senti masuk. Dinding memeknya yang masih sensitif setelah orgasme tadi langsung mencengkeram kontolku lagi. “Uhh… nak… masih penuh banget… kontol anak Mama gede sekali…”

Sekarang dia sudah duduk full di pangkuanku, kontolku tenggelam total di dalam memeknya. Kami berdua diam sebentar, menikmati sensasi itu. Aku peluk pinggangnya dari belakang, tangan kiriku meremas susu kirinya dari luar lace top, tangan kananku turun ke clitorisnya yang sudah bengkak, mengusap pelan.

Mama mulai gerak. Naik-turun pelan di pangkuanku. Setiap kali dia turun, pantatnya menempel penuh di pahaku, kontolku masuk paling dalam sampai menyentuh rahimnya. Suara basah “plok… plok…” kecil terdengar karena memeknya yang masih penuh cairan kami berdua. Green leggings-nya yang ketat bikin pahanya terlihat lebih montok, lebih sensual.

“Ahh… ahh… enak nak… di kamar mandi gini… Mama ngerasa nakal banget,” desahnya sambil memutar pinggulnya pelan. Rambutnya bergoyang, lace top-nya bergeser sedikit, satu susunya hampir keluar.

Aku angkat pinggulku ikut gerak, menusuk lebih dalam. Tangan mama bertumpu kuat di pahaku, kukunya menekan kulitku. Aku bisa liat di cermin depan kami — bayangan kami berdua: aku shirtless bersandar di dinding, mama duduk di pangkuanku dengan pakaian masih setengah on, wajahnya penuh kenikmatan, susunya bergoyang setiap kali dia naik-turun.

Aku tarik lace top-nya ke atas, susunya langsung bebas. Aku remas keduanya dari belakang, putingnya aku cubit pelan. Mama mendesah lebih keras, gerakannya makin cepat.

“Entot Mama lagi nak… isi lagi memek Mama… Mama mau peju anak Mama lagi di dalam…”

Aku gak tahan. Aku angkat tubuhnya sedikit, lalu dorong pinggulku kuat-kuat dari bawah. Kontolku menghantam memeknya dalam-dalam berulang kali. Suara plok-plok-plok makin keras bergema di kamar mandi yang kecil. Air shower masih mengalir di belakang kami, uapnya bikin semuanya terasa lebih panas.

Mama mengejang hebat. Memeknya mencengkeram kontolku kuat-kuat. “Aaaahhh!!! Mama keluar lagi nak… ahhh… Ayman… anak Mama…!!”

Cairannya muncrat hangat membasahi kontolku dan paha ku. Aku juga gak bisa tahan lagi. “Mah… Ayman mau keluar… di dalam ya?!”

“Keluarin! Isi memek Mama lagi! Penuhin rahim Mama peju anak sendiri!!”

Aku dorong sekali yang paling dalam. Pejuku meledak lagi di dalam memeknya. Semburan demi semburan panas menyembur ke rahim mama. Kami berdua gemetar hebat di atas toilet itu. Mama ambruk ke belakang, punggungnya menempel di dada ku, napasnya tersengal.

Kami diam cukup lama, kontolku masih di dalam memeknya yang berdenyut pelan. Air shower masih mengalir. Akhirnya mama berbalik, mencium bibirku dalam-dalam, lidah kami saling menari.

“Mulai sekarang… setiap kali kita mandi bareng,” bisiknya di telingaku sambil tersenyum nakal. “Mama mau kontol anak Mama selalu ada di dalam memek Mama.”

Kami akhirnya mandi bareng beneran. Tapi mandi itu cuma alasan. Sabun di tubuh kami, tangan kami saling jelajah lagi, dan malam itu belum selesai…

Malam itu belum selesai. Setelah sesi gila-gilaan di kamar mandi, tubuh kami berdua masih panas dan lengket. Mama bilang perutnya lapar setelah “olahraga” dua ronde tadi. Aku cuma nyengir, kontolku yang masih setengah tegang bergoyang waktu kami berjalan ke dapur tanpa pakai baju banyak-banyak. Aku cuma pakai short hitam EIGER yang longgar, mama masih pakai sarung batik motif cokelat-hitam yang biasa dia pakai di rumah — sarung yang tipis dan mudah naik itu.

Lampu dapur menyala redup. Mama langsung buka pintu kulkas besar di pojok. Cahaya putih dingin dari dalam kulkas langsung menyinari tubuhnya yang subur. Aku berdiri di belakangnya, mata aku langsung tertuju ke pantat mama yang montok di balik sarung batik. Aku gak tahan.

Tanpa bilang apa-apa, aku maju mendekat. Tangan kananku langsung meraih pinggul mama dari belakang, tangan kiriku menarik sarung batiknya pelan-pelan ke atas. Kain batik itu naik dengan mudah, menggelitik paha putihnya yang tebal. Aku angkat sampai ke pinggangnya. Pantat mama yang bulat, putih, dan masih agak merah bekas tamparan tadi di kamar mandi langsung terpampang telanjang di depanku. Tidak ada CD. Memeknya masih basah dan mengkilap dari sisa peju dan cairannya sendiri.

Mama pura-pura kaget, tapi dia malah menggesekkan pantatnya ke arah kontolku yang sudah ngaceng keras lagi di dalam short. “Nak… kamu mau lagi? Mama cuma mau ambil air minum…” katanya dengan suara manja, tapi pinggulnya malah didorong ke belakang, menggesek kontolku yang sudah tegang.

Aku tarik short-ku ke bawah sampai ke paha. Kontolku langsung melompat keluar, kepalanya yang pink mengkilap menyentuh kulit pantat mama yang dingin karena udara kulkas. Aku pegang batang kontolku dengan tangan kanan, gesek-gesek pelan di antara belahan pantatnya. Kepala kontolku menyapu lubang memeknya yang masih licin dan panas. Bau memek mama yang manis-asin bercampur dinginnya udara kulkas langsung bikin kontolku berdenyut-denyut.

Mama membungkuk lebih dalam ke dalam kulkas, pura-pura mencari sesuatu di rak bawah. Punggungnya melengkung sempurna, pantatnya terangkat tinggi, memeknya terbuka lebar di depanku. Bibir memeknya yang tebal dan merah muda mengkilap, jembut hitam lebatnya masih basah. Aku bisa liat jelas lubangnya yang berdenyut-denyut, meneteskan cairan bening yang kental.

Aku pegang pinggul mama dengan kedua tangan, ibu jariku menekan daging pantatnya yang empuk. Pelan sekali aku majukan pinggul. Kepala kontolku menyentuh bibir memeknya… lalu aku tekan masuk. “Sluuup…” suara basah kecil terdengar saat kepala kontolku merobek masuk ke dalam memek mama yang masih sensitif. Dinding dalamnya langsung mencengkeram erat, panas, dan licin banget.

“Uhh… nak… pelan-pelan… Mama masih penuh dari tadi…” desah mama, suaranya bergema di dalam kulkas yang terbuka.

Aku berhenti sebentar, cuma setengah kontolku yang masuk. Aku nikmati pemandangan itu: kontolku yang tebal terbenam di memek berjembut mama, bibir memeknya meregang mengelilingi batangku, cairan putih kental dari ronde sebelumnya masih menempel di pangkal kontolku. Udara dingin dari kulkas menyapu kontolku yang basah, kontras banget sama panas memek mama.

Aku dorong lagi, pelan tapi pasti. Satu senti… dua senti… sampai seluruh batang kontolku tenggelam dalam-dalam. Pangkal kontolku menempel rapat di bulu jembut mama yang basah. Ujung kontolku menyentuh dinding rahimnya. Mama menggigil hebat, tangannya mencengkeram rak kulkas.

“Ahh… besar sekali… kontol anak Mama penuhin memek Mama lagi…” erangnya.

Aku mulai gerak. Lambat. Sangat lambat. Tarik kontolku sampai hampir keluar, bibir memek mama ikut tertarik ke luar sedikit, lalu dorong masuk lagi sampai pangkal. Setiap hentakan terdengar “plok… plok…” basah yang pelan tapi jelas. Cairan mama makin banjir, menetes ke lantai dapur. Aku remas pinggulnya lebih kuat, jari-jariku meninggalkan bekas merah di kulit putihnya.

Mama mulai ikut gerak. Dia dorong pantatnya ke belakang tiap aku dorong, memutar pinggulnya pelan biar kontolku menggesek seluruh dinding memeknya. Susunya yang montok bergoyang-goyang di dalam kulkas, putingnya menggesek rak dingin yang bikin dia semakin sensitif.

“Entot Mama lebih dalam nak… Mama suka gini… dibikin dari belakang sambil buka kulkas… nakal banget kita…” bisiknya serak, napasnya mulai memburu.

Aku percepat sedikit. Tangan kiriku naik ke rambut panjang mama, aku tarik pelan ke belakang biar punggungnya melengkung lebih dalam. Tangan kananku turun ke depan, jari tengahku menemukan klitorisnya yang sudah bengkak keras. Aku usap-usap pelan sambil terus ngentot dengan ritme stabil. Suara plok-plok-plok makin cepat dan basah.

Dinginnya udara kulkas yang terbuka bikin puting mama mengeras maksimal, tapi memeknya semakin panas dan licin. Aku bisa rasain setiap denyutan dinding memeknya yang mencengkeram kontolku seperti mau memeras habis pejuku.

Mama mulai mendesah lebih keras, hampir menjerit. “Aaaahh… nak… di situ… jari anak Mama enak banget… kontolnya ngebor memek Mama dalem banget… Mama mau keluar lagi… ahh… ahh… ahh!!”

Memeknya mengejang hebat. Cairannya muncrat hangat membasahi kontolku, paha ku, dan lantai dapur. Tubuhnya gemetar, lututnya hampir goyah. Aku tahan pinggulnya kuat-kuat supaya gak ambruk.

Aku gak berhenti. Aku terus hantam memeknya dari belakang dengan hentakan yang lebih kuat sekarang. Bola-bolaku bergoyang-goyang menampar clitorisnya tiap kali kontolku masuk penuh.

“Mah… Ayman mau keluar… di dalam lagi ya?!” aku erang di telinganya.

“Keluarin nak! Penuhin memek Mama lagi! Isi rahim Mama peju anak kandung sendiri!! Mama mau hamil sama anak Mama!!” jerit mama tanpa malu-malu lagi.

Aku dorong sekali yang paling dalam, kontolku berdenyut-denyut di dalam memeknya. Pejuku meledak keras. Semburan panas kental menyembur langsung ke rahim mama. Satu… dua… tiga… sampai delapan kali semburan kuat. Aku rasain memeknya mencengkeram dan memeras setiap tetes pejuku.

Kami berdua gemetar hebat di depan kulkas yang masih terbuka. Cairan campuran kami menetes deras ke lantai. Mama masih membungkuk, napasnya tersengal, pantatnya masih menempel rapat di pangkal kontolku.

Aku peluk pinggangnya dari belakang, cium punggungnya yang basah keringat. “Mama… Ayman cinta memek Mama…”

Mama tertawa pelan, suaranya lemah karena capek. “Mama juga… sekarang setiap kali Mama buka kulkas, Mama mau kontol anak Mama selalu di dalam gini…”

Kami masih bersambung begitu beberapa menit, kontolku masih di dalam memeknya yang berdenyut pelan, menikmati sisa orgasme yang panjang. Udara dingin kulkas bercampur bau sex yang pekat memenuhi dapur kecil itu.

Kami masih saling menempel di depan kulkas yang terbuka lebar. Kontolku masih utuh di dalam memek mama yang berdenyut-denyut, peju kami berdua bercampur mengalir pelan keluar dari bibir memeknya yang sudah merah dan bengkak. Udara dingin dari kulkas menyapu pantat mama yang montok, kontras banget sama panas tubuh kami. Mama masih membungkuk, tangannya mencengkeram rak kulkas, napasnya tersengal-sengal.

“Uhh… nak… kontol anak Mama masih keras banget di dalam…” desah mama pelan, pinggulnya menggoyang kecil, seolah gak rela kontolku keluar.

Aku peluk pinggangnya dari belakang, cium punggungnya yang basah keringat. “Mah… masih mau lagi. Tapi di kasur yuk… Ayman mau nikmatin Mama pelan-pelan, lama-lama.”

Mama tertawa kecil, suaranya serak karena capek dan nafsu. “Iya nak… Mama juga mau di kasur. Biar anak Mama bisa entot memek Mama sepuasnya.”

Pelan-pelan aku tarik kontolku keluar dari memeknya. Suara “sluuup” basah yang panjang terdengar, diikuti tetesan cairan kental yang jatuh ke lantai dapur. Memek mama masih menganga sedikit, bibirnya tebal dan basah mengkilap, campuran peju putih kami menetes pelan dari lubangnya yang merah. Aku tarik sarung batiknya turun lagi ke pinggul, tapi kainnya sudah kusut dan basah.

Kami berdua jalan bergandengan ke kamar tidur mama. Tubuh kami masih telanjang, kontolku yang masih setengah tegang bergoyang-goyang tiap langkah, memek mama masih menetes di lantai. Di lorong, mama berhenti sebentar, memelukku, mencium bibirku dalam-dalam. Lidah kami saling menari, tanganku meremas pantatnya yang montok.

Begitu masuk kamar, lampu tidur kuning redup menyala. Kasur besar mama yang empuk dan rapi langsung terlihat. Mama dorong aku pelan sampai punggungku jatuh ke kasur. Dia naik ke atas tubuhku, duduk di perutku, susunya yang montok bergoyang-goyang di depan mukaku. Putingnya masih keras, coklat gelap, menggoda.

“Malam ini Mama yang ngatur ya nak…” bisiknya nakal sambil menggesek-gesek memeknya yang basah di perutku. Cairan hangatnya membasahi kulitku.

Aku hanya bisa mengangguk, tanganku naik meremas kedua susunya yang berat dan empuk. Mama menunduk, mencium leherku, lalu turun ke dada, menggigit putingku pelan. Lidahnya menjilat turun ke perut, sampai akhirnya dia berlutut di antara kakiku.

Mama pegang kontolku yang sudah kembali keras maksimal dengan kedua tangan. Dia tatap kontolku lama-lama, jarinya mengusap vena-vena yang menonjol. “Kontol anak Mama… gede banget… Mama ketagihan sekarang.” Lalu tanpa basa-basi, mulutnya yang hangat dan basah langsung melahap kepala kontolku.

“Sluuuurp… ahh…” suara hisapannya basah dan rakus. Lidahnya berputar-putar di kepala kontol, menjilat precum yang keluar lagi. Dia telan dalam-dalam sampai pangkal, tenggorokannya bergetar di batang kontolku. Aku pegang rambut panjangnya, dorong pelan pinggulku naik. Mama mendesah di sekitar kontolku, suara “gluck… gluck… sluuuurp” memenuhi kamar.

Setelah beberapa menit blowjob yang bikin aku hampir meledak, mama naik lagi. Dia duduk di atas kontolku, memegang batangnya dengan tangan kanan, lalu pelan-pelan menurunkan pinggulnya. Kepala kontolku menyentuh bibir memeknya yang masih penuh peju tadi… lalu masuk lagi.

“Sluuuup…” suara basah panjang saat kontolku tenggelam pelan ke dalam memek mama. Dia turun sampai pangkal, pantatnya menempel rapat di pahaku. “Aaaahhh… penuh lagi nak… memek Mama penuh kontol anak kandung…”

Mama mulai naik-turun pelan. Gerakannya lambat, sensual. Setiap kali dia turun, kontolku masuk paling dalam, ujungnya menyentuh rahimnya. Susunya bergoyang indah di depan mukaku. Aku angkat tangan, remas susunya, cubit putingnya. Mama mendesah lebih keras, “Ahh… ahh… remas susu Mama nak… Mama suka…”

Aku duduk, peluk pinggangnya, lalu balik posisi. Sekarang aku di atas, mama telentang di kasur. Aku angkat kedua kakinya ke bahuku, memeknya terbuka lebar di depanku. Aku masuk lagi dalam satu hentakan pelan tapi dalam. “Plok!” suara basah terdengar.

Aku ngentot dengan ritme lambat tapi kuat. Setiap hentakan, kontolku keluar hampir seluruhnya, lalu masuk sampai pangkal. Memek mama berbunyi “plok… plok… plok…” semakin basah. Cairannya muncrat kecil tiap aku dorong masuk. Aku tunduk, hisap susunya bergantian sambil terus ngentot.

Mama memeluk kepalaku erat, kuku kukunya mencakar punggungku. “Entot Mama lebih keras nak… Mama mau diisi lagi… ahh… Ayman… anak Mama… entot memek Mama yang cuma buat kamu!!”

Aku percepat sedikit. Kasur berderit pelan mengikuti irama kami. Keringat kami bercampur, bau sex memenuhi kamar. Aku rasain memek mama mulai mengejang-ejang lagi.

“Mah… Ayman mau keluar lagi…” erangku.

“Keluarin nak! Di dalam! Isi rahim Mama penuh-penuh peju anak sendiri!! Mama mau hamil sama kamu!!” jerit mama sambil pinggulnya diangkat tinggi-tinggi.

Aku hantam beberapa kali lagi yang paling dalam. Kontolku berdenyut hebat di dalam memeknya. Pejuku meledak lagi — semburan panas, kental, dan banyak sekali menyembur langsung ke rahim mama. Mama menjerit, memeknya mencengkeram kontolku kuat-kuat, cairannya muncrat basahi perutku. Tubuhnya kejang-kejang hebat di bawah tubuhku.

Kami orgasme bareng yang ketiga kalinya malam ini. Aku ambruk di atas mama, kontolku masih di dalam memeknya yang berdenyut pelan. Kami berpelukan erat, napas tersengal, keringat bercampur.

Mama cium keningku, bisik pelan, “Nak… mulai sekarang, setiap malam… kasur ini cuma buat kita berdua. Mama mau tidur sama kontol anak Mama di dalam memek Mama.”

Aku tersenyum, kontolku masih berdenyut di dalamnya. “Iya Mah… Ayman juga mau gini terus.”

Kami masih saling peluk di kasur yang basah keringat dan cairan, belum mau berpisah. Malam masih panjang…

Kami berdua masih saling menempel di kasur besar kamar mama. Keringat kami bercampur, napas masih tersengal pelan. Kontolku masih setengah keras di dalam memeknya yang berdenyut-denyut pelan, seolah enggan melepaskan. Peju kami yang kental menetes perlahan keluar dari pertemuan tubuh kami, membasahi seprai yang sudah basah kuyup. Mama memeluk punggungku erat, kuku-kukunya masih meninggalkan bekas merah di kulitku. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang lambat di dada ku.

Aku cium keningnya yang basah. “Mah… aku cinta Mama.”

Mama diam lama. Tangannya mengusap punggungku pelan, naik-turun, seperti sedang berpikir. Akhirnya dia berbisik, suaranya hampir hilang, “Nak… ada yang harus Mama ceritain. Sekarang. Sebelum kita terlalu dalam.”

Aku angkat kepala, menatap matanya. Cahaya lampu tidur kuning membuat wajahnya terlihat lebih lembut, tapi ada sesuatu di mata itu — campuran takut, lega, dan sedih yang dalam. Aku tarik kontolku pelan keluar dari memeknya. Suara basah kecil terdengar, tapi kali ini tidak ada nafsu, hanya keintiman yang rapuh. Aku berbaring di sampingnya, memeluk pinggangnya dari samping. Susunya yang montok menempel di dada ku.

“Cerita aja, Mah. Aku dengerin.”

Mama menarik napas panjang. Matanya menatap langit-langit kamar, seperti sedang mengumpulkan keberanian. “Kamu… bukan anak kandung Mama, Ayman.”

Kata-kata itu menggantung di udara beberapa detik. Otakku butuh waktu untuk mencerna. Aku mengerjap. “Apa?”

Mama menoleh, tangannya menyentuh pipiku lembut. “Ayahmu… dia menikahiku saat kamu berumur lima tahun. Ibu kandungmu meninggal karena sakit waktu itu. Ayahmu bilang dia butuh istri yang bisa rawat kamu. Aku… aku jatuh cinta sama ayahmu, tapi yang paling aku cintai adalah kamu. Dari kecil kamu panggil aku ‘Mama’, peluk aku, nangis di pangkuanku. Aku gak pernah bisa bilang ke kamu yang sebenarnya. Aku takut kamu benci Mama.”

Aku diam. Dunia seperti berhenti berputar. Selama ini aku hidup dengan dosa terbesar yang aku kira — menyetubuhi ibu kandung sendiri. Rasa bersalah yang aku pendam bertahun-tahun, yang membuat aku hampir gila sebelum “perampokan” itu, tiba-tiba seperti dilepas pelan-pelan. Tapi di balik lega itu, ada luka baru. Aku merasa… dikhianati? Atau justru diselamatkan?

Air mata mama mulai mengalir pelan. “Setiap kali kita… gini… aku takut banget. Takut kamu tahu, takut Allah murka, takut kamu ninggalin Mama. Tapi malam itu… waktu kamu pura-pura perampok… aku sadar aku juga ngidam kamu. Bukan sebagai anak. Sebagai laki-laki. Sebagai pasangan. Aku benci diri sendiri, tapi aku gak bisa berhenti. Kamu… kamu udah jadi segalanya buat Mama.”

Aku tarik dia ke pelukanku lebih erat. Dadaku sesak. “Mah… kenapa baru sekarang cerita?”

“Karena aku takut kehilangan kamu,” jawabnya sambil terisak pelan di dada ku. “Aku takut kalau kamu tahu kamu bukan anak kandung, kamu bakal liat Mama cuma sebagai perempuan biasa… bukan ibu yang udah besarin kamu. Tapi sekarang… setelah semua ini… aku gak mau bohong lagi. Aku mau kita jujur sama diri kita sendiri.”

Kami diam lama. Hanya suara isak pelan mama dan detak jantung kami yang terdengar. Aku mengusap rambutnya, mencium puncak kepalanya. Di dalam kepalaku, badai emosi berputar. Rasa bersalah yang selama ini seperti gunung berat di dada tiba-tiba ringan. Tapi muncul rasa takut baru — takut masyarakat, takut dosa, takut masa depan. Kami sudah terlalu dalam. Nafsu ini sudah berubah jadi cinta yang aneh, terlarang, tapi tulus.

“Aku gak peduli, Mah,” kataku akhirnya, suaraku serak. “Kamu tetap Mama buat aku. Tapi… aku juga cinta kamu sebagai perempuan. Sebagai istri yang aku mau. Kita… kita bisa nikah siri aja. Diam-diam. Biar di mata Tuhan kita halal. Aku gak mau sembunyi-sembunyi lagi seperti ini selamanya.”

Mama angkat wajahnya. Matanya bengkak, tapi ada cahaya harapan di sana. “Kamu yakin, nak? Nikah siri… itu tetap dosa di mata orang banyak. Kita tetap harus sembunyi.”

“Aku yakin,” jawabku tegas, tapi lembut. “Selama kita berdua, aku siap. Kita bisa cari kyai yang bisa nikahin kita diam-diam. Setelah itu… kita tetap tinggal bareng seperti biasa. Tapi di hati kita, kamu istriku. Aku suamimu.”

Mama menangis lagi, tapi kali ini senang. Kami berciuman pelan, bukan nafsu, tapi penuh rasa syukur dan cinta. Malam itu kami tidur saling peluk, kontolku pelan masuk lagi ke memeknya, bukan untuk ngentot liar, tapi hanya untuk merasakan kehangatan satu sama lain. Kami tidur seperti itu sampai pagi.


Beberapa bulan kemudian, kami nikah siri di sebuah masjid kecil di pinggiran kota. Hanya kami berdua, satu kyai tua yang kami bayar mahal untuk diam, dan dua saksi yang kami percaya. Mama pakai kebaya sederhana, aku pakai kemeja putih. Saat akad, tangan mama gemetar di tanganku. “Saya terima nikahnya…” katanya dengan suara bergetar. Aku jawab dengan mantap. Setelah itu, kami pulang ke rumah seperti biasa. Tidak ada pesta. Tidak ada foto. Tapi di kamar, malam itu kami bercinta pelan-pelan, penuh makna. Seperti suami-istri sungguhan.

Hidup kami berubah, tapi tidak sepenuhnya. Di luar, kami tetap “ibu dan anak”. Mama masih panggil aku “nak”, aku masih panggil dia “Mama”. Tapi di balik pintu kamar, di kolam renang malam-malam, di dapur saat kulkas terbuka, kami adalah suami-istri. Nafsu kami tidak pernah padam. Malah semakin dalam karena sekarang ada rasa memiliki yang sah di hati kami.

Tapi kadang… kami butuh variasi. Psikologisnya aneh. Kadang rasa bersalah itu masih muncul di malam-malam sepi. Kadang kami merasa hubungan ini terlalu sempit, terlalu berat. Jadi kami mulai sesekali menyewa lonte. Bukan karena bosan sama satu sama lain, tapi untuk melepaskan tekanan. Kami pilih cewek yang mirip mama — tubuh subur, umur kepala empat, rambut panjang. Kami bayar mahal supaya diam. Kadang aku ngentot lonte itu sambil mama nonton dari kursi, tangannya sendiri di memeknya. Kadang mama yang ikut, kami bertiga di kasur. Lonte itu cuma alat. Setelah selesai, kami bayar dan suruh pulang. Lalu aku dan mama mandi bareng, peluk-pelukan, dan aku masuk lagi ke memeknya yang sudah basah karena melihat aku sama cewek lain.

“Gini lebih enak ya, Mah?” tanyaku suatu malam setelah lonte pulang.

Mama tersenyum lelah, kepalanya di dada ku. “Iya… tapi yang paling enak tetap kontol suami Mama sendiri. Cuma kamu yang bikin Mama merasa utuh.”

Kami tahu ini hidup yang aneh. Kami tahu dunia luar tidak akan pernah mengerti. Tapi di antara kami, ada cinta yang lahir dari dosa, tapi bertahan karena kejujuran. Aku bukan lagi anak kecil yang pura-pura jadi perampok. Mama bukan lagi ibu yang pura-pura takut. Kami adalah dua orang dewasa yang memilih satu sama lain, meski jalan yang kami ambil penuh tikungan gelap.

Dan setiap malam, saat lampu kamar dimatikan, aku peluk pinggangnya, kontolku masuk pelan ke memeknya yang hangat, dan kami berbisik:

“Aku cinta kamu.”

“Aku juga cinta kamu… suamiku.”

Tamat.