Aku bernama Larasati. Umurku 29 tahun. Orang-orang di apartemen ini biasa memanggilku Mbak Laras, terutama anak-anak tetangga yang sering minta tolong main game di ponselku. Aku tinggal sendirian di unit 12B, lantai 12, sejak dua tahun lalu suamiku pergi tanpa pamit—hanya meninggalkan pesan singkat di meja makan: “Maaf, aku nggak kuat lagi.”
Tubuhku masih sama seperti dulu waktu masih menikah. Tinggi 165 cm, kulit putih susu yang mudah memerah kalau panas atau malu. Payudara ukuran 36C, penuh dan kencang, puting cokelat muda yang selalu menonjol kalau aku pakai bra tipis atau kaus tanpa bra di rumah. Pinggulku lebar, pantat bulat montok yang selalu membuat celana jeans ketat terlihat seperti dipahat khusus. Rambut hitam lurus panjang sampai pinggang, biasanya aku ikat ponytail tinggi supaya tidak gerah. Bibirku tebal alami, selalu kelihatan basah karena aku suka menggigit bibir bawah waktu tegang.
Malam itu hujan deras. Jam sudah lewat tengah malam. Aku baru pulang dari shift malam di kafe rooftop hotel bintang lima di kawasan SCBD. Seragam hitam ketatnya masih melekat di badan, rok mini hitam yang cuma sampai pertengahan paha, kemeja putih yang sudah agak basah keringat dan hujan. Aku capek, tapi anehnya badan terasa panas. Mungkin karena semalaman aku melayani tamu-tamu kaya yang tatapannya selalu turun ke dada dan paha.
Lift berhenti di lantai 12. Pintu terbuka. Lorong panjang berlampu kuning temaram. Aku melangkah keluar, tumit sepatu hak 7 cm berbunyi klik-klok di lantai marmer. Tas selempangku bergoyang di pinggul.
Tiba-tiba aku berhenti.
Di depan pintu unit 12A—tepat sebelah apartemenku—ada seorang pria berdiri menyandar ke dinding. Tinggi, bahu lebar, kaus hitam ketat membungkus otot dada dan lengan yang penuh urat. Celana jogger abu-abu longgar, tapi tonjolan di selangkangannya tetap jelas terlihat meski kainnya tebal. Tangan kirinya memegang botol bir dingin yang masih mengepul embun, tangan kanan memainkan kunci motor gede yang tergantung di jari telunjuk.
Dia menatapku.
Namanya Rama. Tetangga sebelah yang baru pindah tiga bulan lalu. Katanya mantan tentara, sekarang kerja freelance sebagai tattoo artist dan kadang jadi bodyguard event malam. Badannya penuh tato tribal hitam pekat dari lengan sampai leher, ada satu lagi di dada yang selalu kelihatan kalau kausnya longgar. Rambut cepak pendek, rahang tegas, mata sipit tajam yang selalu seperti sedang menilai mangsa.
Aku pernah mendengar desas-desus dari Mbak Rina di lantai bawah: “Itu Rama suka main cewek, Mbak. Katanya kontolnya gede banget, bikin cewek nangis minta ampun.”
Aku cuma tertawa kecil waktu itu. Tapi sekarang, saat dia menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki, aku merasakan sesuatu yang aneh di antara paha. Hangat. Lembab. Aku buru-buru menunduk, berusaha lewat cepat.
“Malam, Mbak Laras,” suaranya dalam, serak karena bir dan rokok. “Basah banget ya malam ini.”
Aku tersentak. Kata-katanya ambigu. Aku tahu dia bicara soal hujan, tapi nada bicaranya… lain.
“I-iya… hujan deras tadi,” jawabku pelan, suara hampir hilang.
Dia melangkah mendekat satu langkah. Bau maskulinnya langsung menerpa hidungku—campuran parfum kayu, keringat segar pria, dan sedikit aroma bir dingin. Jantungku berdegup kencang.
“Seragamnya ketat banget. Pasti capek ya berdiri seharian sambil dilupain orang-orang,” katanya lagi, mata turun ke dada. Putingku sudah mengeras di balik kemeja tipis. Aku tahu dia bisa melihatnya.
Aku menelan ludah. “Aku… mau masuk dulu. Dingin.”
Dia tersenyum kecil, miring. Gigi putihnya kelihatan. “Masuk aja. Tapi pintu aku kebuka kok. Kalau Mbak Laras butuh apa-apa… panggil aja.”
Aku buru-buru membuka pintu apartemenku. Begitu masuk, aku langsung mengunci. Punggungku bersandar ke pintu. Napasku tersengal. Tangan kananku tanpa sadar turun ke antara paha, menekan rok yang sudah lembap. Celana dalamku basah. Bukan karena hujan.
Malam itu aku mandi lama sekali. Air panas mengguyur tubuh. Aku memejamkan mata, tapi bayangan Rama terus muncul. Tangan besarnya yang penuh urat, botol bir dingin yang dia pegang tadi, tonjolan tebal di celana jogger-nya. Aku menggigit bibir bawah keras sampai terasa perih.
Jari tengahku menyelinap ke dalam celana dalam. Memekku sudah licin sekali. Bibir vagina bengkak, klitoris menonjol sensitif. Aku menggosok pelan sambil membayangkan suara Rama tadi: “Mbak Laras… basah banget ya malam ini.”
Aku orgasme kecil di kamar mandi. Lututku lemas. Air mataku ikut jatuh bercampur air shower. Aku malu. Tapi aku juga… penasaran.
Dua hari kemudian, aku pulang lebih malam lagi. Jam 2 pagi. Lift rusak, aku terpaksa naik tangga dari lantai 7 karena lift express sedang maintenance. Kakiku pegal, napasku ngos-ngosan.
Saat sampai lantai 12, aku hampir jatuh tersungkur karena kaget.
Rama berdiri di depan pintu apartemenku. Kali ini dia pakai tank top hitam tanpa lengan, celana pendek olahraga. Otot lengan dan dada terlihat jelas. Ada keringat tipis di lehernya—mungkin baru selesai latihan.
“Mbak Laras kok naik tangga? Lift rusak ya?” tanyanya santai, tapi matanya lagi-lagi menelusuri tubuhku dari atas sampai bawah.
Aku mengangguk lemah. “Iya… capek banget.”
Dia melangkah mendekat. Kali ini jaraknya cuma satu lengan. Aku bisa merasakan panas tubuhnya.
“Masuk dulu ke tempat aku. Aku punya es batu sama air dingin. Mbak Laras kelihatan pucet.”
Aku mau menolak. Benar-benar mau. Tapi kakiku malah mengikuti dia masuk ke unit 12A.
Pintu ditutup. Kunci berderit.
Ruangan gelap, hanya lampu meja kecil yang menyala di sudut. Bau tinta tattoo, rokok, dan parfum pria memenuhi udara. Di dinding ada beberapa foto polaroid cewek telanjang dengan tato baru—semuanya pose sensual, wajah memerah, bibir menganga.
Dia menyerahkan segelas air dingin. Jari kami bersentuhan. Listrik menyambar.
“Makasih…” suaraku bergetar.
Dia tidak mundur. Malah maju lagi. Dadaku hampir menyentuh dadanya.
“Mbak Laras tahu nggak… aku sering dengar desahan Mbak dari kamar sebelah,” katanya pelan, hampir berbisik. “Malam-malam gini. Mbak suka main sendiri ya?”
Wajahku langsung panas. Aku mau mundur, tapi punggungku sudah menempel dinding.
“A-aku nggak—”
“Jangan bohong,” potongnya. Tangan kanannya naik, jempolnya menyentuh bibir bawahku, mengusap pelan. “Aku tahu Mbak Laras kesepian. Aku juga tahu… memek Mbak pasti lagi basah sekarang.”
Aku gemetar. Lututku lemas. Aku tahu aku harus pergi. Tapi badanku tidak mau bergerak.
Dia menunduk. Hidungnya hampir menyentuh leherku. Aku merasakan napas panasnya di kulit.
“Bilang nggak mau… aku berhenti sekarang juga,” bisiknya. “Tapi kalau Mbak diam… aku anggap itu iya.”
Aku diam.
Dan itu adalah kesalahan terbesarku malam itu.
Aku masih diam. Napasku pendek-pendek, dada naik turun cepat. Rama tidak menunggu lagi.
Tangan kanannya langsung meraih rambut ponytailku, menarik kepalaku ke belakang hingga leher terbuka lebar. Mulutnya langsung menempel di leherku—bukan ciuman lembut, tapi gigitan keras disertai hisapan dalam. Aku menjerit kecil, tapi suara itu langsung tertelan di tenggorokan. Rasa sakit bercampur nikmat menyambar dari kulit sampai ke ujung jari kaki.
“Sudah basah kan, jalang kecil?” bisiknya tepat di telingaku, gigi bawahnya menggesek cuping telingaku. “Aku bisa cium baunya dari sini.”
Dia benar. Aroma memekku yang sudah banjir mulai tercium samar-samar di udara ruangan yang pengap. Aku malu sekali, tapi malu itu malah membuat cairanku semakin banyak menetes ke paha dalam.
Tangan kirinya turun kasar, meremas payudaraku dari luar kemeja seragam. Jempol dan telunjuknya mencubit puting yang sudah keras seperti batu, memelintir pelan tapi kuat. Aku menggelinjang, punggung melengkung menempel dinding.
“Lepas bajunya,” perintahnya, suara rendah tapi tegas. Bukan permintaan.
Aku gemetar. Tangan sendiri membuka kancing kemeja satu per satu. Setiap kancing terlepas, dadaku terbuka lebih lebar. Bra hitam renda tipis yang aku pakai malam ini langsung terlihat—puting cokelat muda menembus kain tipis itu. Rama menarik napas dalam, matanya gelap.
Dia menarik bra ke atas tanpa melepas kait belakang, membuat payudara terloncat keluar. Dingin udara AC langsung menyentuh kulit sensitif. Dia langsung menunduk, mulutnya menangkap puting kanan, mengisap keras sambil lidahnya memutar-mutar. Gigi bawahnya menggigit pelan, menarik puting sampai memanjang sebelum dilepas dengan bunyi “pop” basah.
Aku mengerang keras. “Ahh… Mas… sakit…”
“Sakit tapi enak kan?” katanya sambil beralih ke puting kiri, memperlakukannya sama kasar. Tangan kanannya turun, menarik rok mini hitamku ke atas sampai pinggang. Celana dalam renda hitam sudah basah kuyup di bagian tengah, ada noda gelap melingkar besar.
Dia tertawa kecil, serak. “Lihat ini… memeknya banjir sampe netes ke paha. Kamu memang jalang yang haus kontol ya?”
Aku menunduk, wajah memerah. Tapi aku tidak bisa bohong lagi. Badanku sudah menyerah.
Rama menarik celana dalamku ke bawah dengan satu tarikan kasar. Kain renda robek sedikit di sisi, tapi dia tidak peduli. Dia memaksa kakiku membuka lebar dengan lututnya yang kuat. Jari tengah dan telunjuk kanannya langsung menyusup ke lipatan memekku yang licin.
“Plok… plok…” suara basah terdengar setiap jarinya mengaduk masuk-keluar. Dia memasukkan tiga jari sekaligus, melengkung mencari titik sensitif di dinding depan vagina. Begitu menemukannya, dia menekan keras sambil menggosok cepat.
Aku menjerit. “Aaaahhh! Mas… jangan… terlalu dalam…!”
“Tapi memekmu ngisap jari aku kayak pengen ditambah lagi,” ejeknya. “Bilang, Laras. Bilang kamu mau kontol aku sekarang.”
Aku menggeleng lemah, air mata mulai menetes. Tapi pinggulku malah maju-maju mengikuti irama jari-jarinya.
Dia menarik jari keluar tiba-tiba. Cairanku menetes panjang ke lantai. Dia mengangkat tangan itu ke depan mulutku. “Jilat. Rasa memekmu sendiri.”
Aku ragu. Tapi dia menekan jari ke bibirku. Aku membuka mulut, lidah menjilat cairan bening asin-manis itu. Rasa maluku makin menjadi, tapi juga makin basah.
Rama mundur setengah langkah. Dia menarik tank top-nya lepas, memperlihatkan dada bidang penuh tato hitam dan otot yang berkeringat tipis. Lalu celana pendek olahraganya diturunkan bersama celana dalam.
Kontolnya melompat keluar. Panjang sekitar 19 cm, tebal seperti pergelangan tanganku, urat-urat menonjol di sepanjang batang, kepala bulat merah keunguan sudah basah di ujung karena precum. Bulu kemaluan hitam rapi dipangkas, bola-bolanya besar dan berat menggantung.
Aku menatapnya terpana. Takut. Penasaran. Lapar.
Dia meraih rambutku lagi, menarikku turun sampai berlutut di lantai lorong sempit dekat pintu kamar mandi. Kepala kontolnya tepat di depan bibirku.
“Buka mulut,” perintahnya.
Aku membuka. Dia langsung mendorong masuk. Kepala kontolnya memenuhi mulutku, rasa asin precum langsung terasa di lidah. Dia mendorong lebih dalam sampai menyentuh tenggorokan. Aku tersedak, air mata mengalir.
“Tenang… tarik napas dari hidung,” katanya sambil tetap mendorong pelan tapi pasti. “Kamu bisa deepthroat, kan? Aku tahu cewek sepertimu pasti pernah dilatih.”
Aku mengangguk lemah sambil menahan muntah. Dia mulai menggerakkan pinggul, mengentot mulutku pelan dulu, lalu semakin cepat. Suara “gluk… gluk… gluk…” basah terdengar setiap kali kontolnya masuk sampai pangkal. Air liur menetes dari sudut bibirku, membasahi dagu dan payudara.
Dia menarik keluar tiba-tiba, kontolnya berkilau penuh air liur. “Cukup foreplay. Sekarang giliran memekmu dihancurkan.”
Dia menarikku berdiri, memutar tubuhku menghadap cermin besar di dinding lorong. Pantatku yang montok terlihat jelas di pantulan. Dia menekan punggungku agar membungkuk, tangan kirinya memegang pinggul, tangan kanan memandu kontolnya ke pintu masuk vagina.
“Mas… pelan dulu… gede banget…” pintaku lirih.
“Pelan? Memekmu udah nganga minta diisi,” ejeknya. Lalu dia mendorong keras sekali.
Kepala kontolnya masuk, membelah bibir vagina yang sudah bengkak. Aku menjerit keras. Rasa penuh, sakit, nikmat bercampur jadi satu. Dia tidak berhenti, terus mendorong sampai seluruh batang masuk, bola-bolanya menempel di klitorisku.
“Aaaahhhh! Penuh… Mas… hancur…!” jeritku.
Dia mulai mengentot. Keras. Cepat. Setiap dorongan membuat payudaraku bergoyang liar, pantatku bergetar karena benturan. Suara “plok-plok-plok” basah memenuhi lorong sempit itu. Bau keringat, aroma memek basah, dan cairan yang menetes ke lantai bercampur jadi satu.
Dia menampar pantatku keras. “Bilang! Bilang kamu budak kontol aku!”
“A-aku… budak kontol Mas Rama…!” aku menjerit di antara desahan.
“Lebih keras! Minta dihancurkan!”
“Hancurkan memekku Mas! Ngentot aku sampai lemas! Aku mau jadi budak kontolmu terus!”
Dia tertawa puas. Tarikanku ke belakang lebih keras, membuat punggung melengkung ekstrem. Dia mengentot lebih dalam, kepala kontolnya menabrak serviks berulang-ulang. Aku orgasme pertama datang tiba-tiba—tubuhku kejang, memekku mengencang kuat mencengkeram kontolnya, cairan bening menyembur keluar membasahi paha kami berdua.
“Squirt pertama… bagus,” katanya sambil terus mengentot tanpa jeda. “Masih bisa lagi kan?”
Aku cuma bisa mengangguk lemah, air mata dan air liur bercampur di wajah.
Dia menarik kontol keluar, memutar tubuhku lagi, mengangkat kakiku kiri ke atas bahunya. Posisi ini membuat vagina terbuka lebar. Dia masuk lagi, kali ini lebih brutal. Setiap dorongan membuat kepalaku membentur dinding lorong. Aku menjerit tanpa suara lagi, tenggorokan sudah serak.
Orgasme kedua datang lebih cepat. Kali ini aku squirt lagi, lebih banyak, membasahi lantai sampai bergenang kecil. Lututku gemetar hebat.
Rama menarik kontol keluar, memegang batangnya sendiri, mengocok cepat di depan wajahku. “Buka mulut. Terima hadiah pertama.”
Aku membuka. Sperma panas menyembur deras—pertama ke lidah, kedua ke pipi, ketiga ke payudara. Rasa asin pekat memenuhi mulut. Aku menelan sebagian, sisanya menetes ke dagu.
Dia masih keras. Kontolnya tidak turun sama sekali.
Dia menarikku ke kamar tidur. Melemparku ke kasur. “Belum selesai, Laras. Malam ini baru mulai.”
Aku terbaring lemas, memek merah bengkak, sperma masih menetes dari wajah dan dada. Tapi mataku… masih lapar.
Dia naik ke atas kasur, kontolnya lagi-lagi menempel di bibir vagina yang sudah lelah tapi masih berdenyut haus.
“Besok malam aku bawa temen. Kamu siap dilatih bareng dua kontol?”
Aku menelan ludah. Tubuh gemetar. Tapi mulutku berbisik pelan, hampir tidak terdengar:
“…siap, Mas.”
Aku terbaring telentang di kasur Rama, kaki masih terbuka lebar, memek merah bengkak berdenyut-denytut karena dua orgasme squirt tadi. Sperma masih lengket di wajah, dada, dan dagu—asin dan pekat, baunya memenuhi hidung setiap kali aku tarik napas. Tubuhku lemas, tapi anehnya… masih haus. Pinggulku sendiri bergerak kecil-kecil tanpa sadar, mencari gesekan meski kontol Rama belum masuk lagi.
Dia berdiri di ujung kasur, kontolnya masih tegak keras, berkilau campuran air liur, cairanku, dan sisa sperma. Matanya gelap, penuh nafsu yang belum puas. Dia mengambil ponsel dari meja samping, mengetik cepat sambil tersenyum miring.
“Dia datang dalam sepuluh menit,” katanya pelan, suara serak karena bir dan hasrat. “Temen aku. Namanya Dito. Mantan rekan satu tim. Kontolnya lebih panjang dari aku, tapi lebih ramping. Cocok buat nembus belakang.”
Aku tersentak. Jantung berdegup kencang. “Mas… aku… aku nggak yakin…”
Dia mendekat, tangan kanannya meremas daguku keras, memaksa aku menatap matanya. “Kamu bilang siap tadi. Dan memekmu masih banjir. Jangan bohong sama diri sendiri, Laras. Kamu mau ini. Mau diisi dua kontol sekaligus sampai nggak bisa jalan besok pagi.”
Aku menelan ludah. Air mata menetes lagi, tapi bukan karena takut murni—ada campuran malu, penasaran, dan hasrat yang sudah membakar habis akal sehat. Aku mengangguk pelan.
“Bagus,” katanya sambil melempar ponsel ke samping. “Sekarang berdiri. Hadap dinding. Posisi tadi. Tangan di dinding, bokong ke belakang.”
Aku patuh. Kakiku gemetar saat berdiri, punggung membungkuk, tangan menempel dinding dingin lorong sempit yang masih berbau keringat dan seks. Pantatku terangkat tinggi, memek terbuka lebar dari belakang, cairan bening masih menetes ke lantai membentuk genangan kecil.
Rama berdiri di belakangku. Kontolnya menempel di celah pantat, gesek pelan dulu, mengoleskan sisa cairan ke lubang belakang yang belum pernah disentuh siapa pun selain jari sendiri waktu sendirian. Aku menegang.
“Tenang… aku nggak langsung masuk situ,” bisiknya di telinga. “Dito yang lebih suka belakang. Aku mau depan dulu. Biar memekmu terbiasa lagi.”
Dia mendorong masuk dari belakang. Posisi ini membuat kontolnya terasa lebih dalam, kepalanya langsung menabrak serviks. Aku mengerang panjang, suara bergema di lorong sempit. “Aaaahhh… Mas… dalam banget…”
Dia mulai mengentot lagi, tangan kirinya meraih rambut ponytailku, menarik kepalaku ke belakang sampai leher melengkung ekstrem. Tangan kanannya menampar pantatku berulang-ulang—keras, berbunyi “plak! plak! plak!” sampai kulit memerah panas. Setiap tamparan membuat memekku mengencang, mencengkeram kontolnya lebih kuat.
“Bilang kamu jalang apartemen yang suka dihancurkan dua kontol!” bentaknya.
“A-aku… jalang apartemen… suka dihancurkan dua kontol…!” jeritku, suara pecah karena tarikan rambut.
Pintu apartemen terbuka pelan. Aku mendengar langkah kaki berat mendekat. Bau parfum baru, lebih tajam, lebih maskulin. Dito masuk. Tinggi hampir sama dengan Rama, tapi lebih ramping, otot lebih kering, tato minimalis hanya di lengan kiri. Rambut gondrong diikat ke belakang, mata hitam tajam. Dia langsung melepas kaus dan celana tanpa bicara banyak, kontolnya sudah setengah keras—panjang sekali, mungkin 21 cm, ramping tapi kepalanya besar.
Dia mendekat, berdiri di depanku. Kontolnya tepat di depan wajahku yang sudah basah air mata dan sperma.
“Buka mulut,” katanya singkat. Suaranya lebih dingin dari Rama, tapi sama dominannya.
Aku membuka. Dia langsung mendorong masuk. Rasa berbeda—lebih panjang, menyentuh tenggorokan lebih dalam. Aku tersedak lagi, tapi Rama di belakang tidak berhenti mengentot. Tubuhku bergoyang maju mundur seperti boneka, mulut diisi kontol Dito, memek dihancurkan kontol Rama.
Suara basah “gluk-gluk” dari mulut dan “plok-plok” dari memek bercampur jadi satu. Bau keringat dua pria, aroma sperma, aroma memekku yang sudah terbuka lebar—semuanya memenuhi lorong sempit itu.
Rama menarik keluar tiba-tiba. “Ganti posisi. Ke kasur.”
Mereka mengangkatku seperti boneka. Aku dilempar ke kasur telentang. Dito naik ke atas, memposisikan dirinya di antara kakiku. Kontol rampingnya langsung menyusup masuk ke memek yang sudah licin dan longgar karena Rama tadi. Rasa penuh berbeda—lebih dalam, lebih menusuk.
Sementara itu Rama naik ke kepalaku, kontolnya menempel di bibir. “Jilat bola aku sambil Dito ngentot.”
Aku menurut. Lidahku menjilat bola-bola besar Rama yang berat, rasa asin keringat dan sperma. Dito mulai mengentot cepat, tangannya meremas payudaraku keras, mencubit puting sampai memerah.
Aku orgasme lagi. Ketiga kalinya malam ini. Cairan menyembur deras, membasahi perut Dito. Tubuhku kejang hebat, tapi mereka tidak berhenti.
“Ganti lagi,” kata Rama.
Mereka memutar tubuhku. Aku sekarang doggy style di kasur, pantat tinggi. Dito masuk ke memek dari belakang, Rama ke mulut dari depan. Mereka mengentot bersamaan, irama sinkron—setiap dorongan Dito membuat mulutku maju menelan kontol Rama lebih dalam.
Aku tidak bisa berpikir lagi. Hanya desahan, jeritan tertahan, dan rasa penuh di dua lubang. Memekku bengkak parah, klitoris sensitif sekali setiap gesekan.
Rama menarik keluar dari mulut, bergerak ke belakang. “Sekarang double. Dito depan, aku belakang.”
Aku panik. “Mas… lubang belakangku… belum pernah…”
“Malam ini pertama kalinya,” katanya sambil mengoleskan cairan memekku ke lubang anus sebagai pelumas. Jari tengahnya menyusup pelan, membuka sedikit demi sedikit. Rasa perih bercampur aneh nikmat.
Dito tetap di memek, kontolnya diam dulu. Rama mendorong kepala kontolnya ke lubang belakang. Perlahan. Sakit. Sangat sakit. Aku menjerit keras, air mata mengalir deras.
“Tahan… jalang. Kamu bisa,” bisik Rama sambil terus mendorong.
Akhirnya masuk. Penuh. Sangat penuh. Dua kontol di dua lubang sekaligus. Aku merasa seperti akan robek, tapi juga… nikmat yang belum pernah kurasakan. Mereka mulai bergerak pelan dulu, lalu semakin cepat.
Aku orgasme keempat. Squirt lagi, lebih deras, membasahi kasur sampai basah kuyup. Tubuhku kejang tanpa henti. Jeritanku pecah, suara serak habis.
Mereka tidak tahan lagi. Dito menarik keluar, menyemburkan sperma panas ke punggung dan pantatku. Rama menarik dari belakang, menyembur ke dalam anus—rasa hangat mengalir di dalam. Aku merasakan sperma menetes keluar dari lubang belakang, bercampur cairanku.
Aku ambruk ke kasur. Tubuh gemetar hebat. Memek dan anus merah bengkak, sperma menetes dari mana-mana. Payudara penuh bekas remasan dan gigitan. Wajah basah air mata, air liur, sperma.
Rama dan Dito berdiri di samping kasur, kontol mereka akhirnya lemas, tapi masih berkilau.
Rama membungkuk, mencium keningku pelan—pertama kalinya ada kelembutan malam ini.
“Besok malam… kita ulang. Tapi kali ini di rooftop apartemen. Malam hujan lagi. Biar kamu basah dari luar juga.”
Aku tidak bisa bicara. Hanya mengangguk lemah. Mataku tertutup. Tubuh lemas total.
Tapi di dalam hati… aku tahu.
Aku sudah ketagihan.
Dan malam itu… baru permulaan.
TAMAT





