Aku, Rina, 32 tahun, janda sejak dua tahun lalu. Suamiku meninggal karena kecelakaan motor di jalan tol, meninggalkanku dengan sebuah rumah kecil di pinggir Jakarta Selatan dan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Tubuhku masih utuh, bahkan lebih penuh dari dulu—payudara cup D yang berat dan kencang meski sudah melahirkan sekali, pinggul lebar yang membuat rok span selalu ketat di bagian bokong, pantat bulat montok yang selalu jadi sasaran tatapan pria di minimarket atau saat salat tarawih di masjid komplek. Kulitku sawo matang cerah, mulus karena rajin memakai body lotion vanilla setiap malam. Rambut panjang hitam legam yang selalu kusembunyikan di balik jilbab lebar model segi empat, bibir tebal alami berwarna merah muda tua, dan mata sipit yang katanya selalu terlihat menggoda meski aku berusaha menunduk sopan.
Malam itu hujan deras sekali. Listrik di komplek sempat padam sejam, jadi aku memilih tiduran di kamar sambil main Mobile Legends pakai hotspot dari ponsel. Aku pakai kaus oblong longgar tanpa bra—putingku yang besar dan cokelat tua kadang menonjol samar di balik kain tipis—ditambah celana legging hitam ketat yang membungkus paha tebal dan bokongku sampai terlihat garis celah pantat kalau aku membungkuk. Di atas kepala tetap jilbab instan warna hitam polos, karena aku merasa telanjang kalau melepasnya meski sendirian di rumah.
Tiba-tiba ada ketukan pelan di pintu depan.
Aku kaget. Jam sudah lewat tengah malam. Siapa yang datang?
Aku membuka pintu sedikit, hanya setinggi muka. Di teras berdiri Mas Dika, tetangga sebelah. Pria 28 tahun, badan tinggi tegap, bekas main basket semasa SMA, kulit sawo matang gelap, rahang tegas, dan lengan berotot yang selalu kelihatan karena dia suka pakai kaus ketat. Dia tetangga yang paling sering menyapa, kadang bantu angkat galon, kadang ngasih ikan mujair kalau habis mancing di kolam desa. Tapi malam ini matanya beda. Basah kuyup karena kehujanan, kausnya nempel di dada dan perutnya yang rata, celana pendek olahraga hitamnya juga basah sampai memperlihatkan tonjolan besar di selangkangan.
“Tante… listrik mati di sebelah. Charger HP habis. Boleh numpang ngecas bentar sambil nunggu hujan reda?” suaranya serak, seperti orang menahan sesuatu.
Aku ragu. Tapi hujan makin deras, angin masuk ke ruang tamu. Akhirnya aku mengangguk pelan.
“Masuk aja, Mas. Tapi jangan lama-lama ya, aku mau tidur.”
Dia masuk, sepatu dilepas, kaus basah langsung meneteskan air di lantai keramik. Aku ambil handuk kecil dari kamar mandi, memberikannya padanya. Saat tanganku menyentuh jarinya, ada getaran listrik kecil. Aku buru-buru menarik tangan.
Dia mengelap rambut dan leher, tapi matanya tak lepas dari tubuhku. Aku sadar kausku sudah agak basah di bagian dada karena cipratan hujan dari pintu, puttingku mengeras dan terlihat jelas menonjol.
“Kak Rina… cantik banget malam ini,” katanya tiba-tiba, suara rendah.
Aku tersentak. Biasanya dia panggil “Tante” atau “Bu Rina” dengan sopan.
“Mas ngomong apa sih,” aku menunduk, pipi panas. “Charger di meja ruang tamu. Colok aja.”
Tapi dia tak bergerak ke meja. Malah melangkah mendekat. Bau keringat segar campur hujan dari tubuhnya tercium kuat. Maskulin, membuat kepalaku sedikit pusing.
“Sejak dulu aku suka ngeliatin Kak Rina pas salat di masjid. Jilbabnya rapi, roknya panjang, tapi bokongnya… ya Tuhan, selalu goyang pelan tiap langkah. Aku sering bayangin gimana rasanya pegang dari belakang.”
Jantungku berdegup kencang. Aku mundur sampai punggung menyentuh dinding. “Mas Dika… jangan ngomong gitu. Aku janda, tapi aku tetap perempuan beragama.”
Dia tersenyum miring. “Justru karena Kak Rina janda, aku tahu pasti kesepian. Suami udah nggak ada, siapa yang puasin Kak Rina sekarang? Tangan sendiri?”
Wajahku memerah hebat. Aku ingin marah, tapi mulutku kering. Di antara paha, aku merasakan sesuatu yang hangat mulai merembes. Memekku mulai basah hanya karena kata-katanya.
Dia melangkah lagi, sekarang jarak kami tinggal sejengkal. Tangannya naik, menyentuh ujung jilbabku, lalu menarik pelan kain itu sampai terlepas. Rambutku tergerai panjang, jatuh sampai pinggang.
“Cantik sekali…” desisnya.
Aku gemetar. “Mas… jangan…”
Tapi tubuhku tak bergerak menolak. Malah mataku tertutup saat bibirnya mendekat. Ciuman pertama datang ganas. Bibirnya panas, lidahnya langsung memaksa masuk ke mulutku. Aku mencoba menolak sebentar, tapi lidahku malah balas menari. Bau napasnya maskulin, sedikit rokok dan permen mint.
Tangannya langsung meremas payudaraku dari luar kaus. Keras. Sakit, tapi nikmat. Putingku dijepit jari telunjuk dan jempol, dipilin pelan sampai aku mendesah di dalam ciuman.
“Uhh… Mas… jangan…”
“Jangan apa? Memek Kak Rina udah banjir kan?” tangan satunya turun, meraba selangkanganku dari luar legging. Jari tengahnya menekan tepat di celah memek, menggosok naik turun. Aku menggelinjang.
“Basah banget… jalang kecil,” bisiknya di telingaku.
Aku malu setengah mati, tapi pinggulku malah maju sendiri mencari gesekan itu.
Dia menarikku ke kamar. Aku tak melawan lagi. Begitu pintu kamar tertutup, dia mendorongku ke ranjang. Aku jatuh telentang, kaus tersingkap sampai perut. Payudaraku naik turun cepat.
Dia menarik leggingku kasar sampai robek sedikit di bagian paha. Celana dalam merah renda yang aku pakai malam ini langsung kelihatan—sudah basah di bagian tengah, warnanya gelap karena cairan.
“Ya Allah… memeknya udah nganga minta kontol,” katanya sambil menjilati bibir.
Dia membuka celana pendeknya. Kontolnya melompat keluar—panjang sekitar 18 cm, tebal, urat-urat menonjol, kepala bulat besar mengkilap karena precum. Aku menatapnya dengan mata melebar. Sudah lama sekali aku tak melihat, apalagi merasakan, sesuatu sebesar itu.
Dia naik ke ranjang, menarik kakiku lebar-lebar. Jilbabku sudah lepas total, rambut tersebar di bantal. Dia menunduk, mencium paha dalamku, lalu lidahnya menyusuri garis celana dalam. Bau memekku yang masam-manis tercium olehnya, dan dia malah mendesah nikmat.
“Wanginya bikin gila…”
Lalu dia menarik celana dalam itu ke samping. Memekku terbuka—bibir memek tebal berwarna cokelat tua, klitoris sudah bengkak merah, cairan bening mengalir sampai ke lubang anus.
Dia langsung menjilat dari bawah ke atas, lidahnya lebar dan kasar. Aku menjerit kecil, tangan meraih sprei.
“Aaahhh… Mas… jangan di situ… kotor…”
“Bukan kotor. Enak. Memek janda yang kelaparan,” jawabnya lalu menghisap klitorisku keras.
Aku menggelinjang hebat. Dalam dua menit aku sudah orgasme pertama—cairan muncrat kecil, membasahi dagunya. Dia tertawa pelan.
“Baru jilat doang udah nyemprotin muka. Besok aku ajak temen biar rame.”
Kata-kata itu seharusnya menakutkan, tapi malah membuat memekku berkedut lagi.
Dia naik, memposisikan kontol di mulut memekku. Kepala kontolnya besar, menekan masuk pelan. Aku meringis—sakit, tapi nikmat luar biasa.
“Pelan Mas… besar…”
“Pelan? Nanti malah minta lebih keras,” desisnya lalu dorong keras sampai masuk separuh.
Aku menjerit. Rasa penuh, terbelah, panas. Dia berhenti sebentar, lalu tarik keluar hampir semua, kemudian tusuk lagi lebih dalam. Plok… plok… suara basah memenuhi kamar.
Dia mulai mengentot cepat. Setiap dorongan membuat payudaraku bergoyang-goyang. Dia meremas keduanya keras, memilin puting sampai aku menangis nikmat.
“Bilang, Kak Rina milik siapa kontolnya?”
Aku menggeleng, malu.
Dia mencengkeram leherku pelan, choking ringan. “Bilang!”
“Milik… Mas Dika…” desahku lirih.
“Lebih keras!”
“MILIK MAS DIKA! NGENTOT AKU LAGI… HANCURKAN MEMEK JANDA INI!”
Dia mengaum, mempercepat. Posisi berganti—aku dibalik doggy style. Bokongku yang montok terangkat tinggi. Dia menampar pantatku keras berkali-kali sampai memerah. Setiap tamparan membuat memekku semakin basah.
“Pantatnya empuk banget… pantat janda emang beda,” katanya sambil terus menyetubuhi dari belakang.
Aku orgasme lagi, kali ini lebih hebat. Cairan muncrat membasahi sprei, kakiku gemetar tak kuat menahan posisi. Dia tak berhenti, malah menarik rambutku ke belakang seperti tali kekang.
“Mas… udah… lemes…”
“Belum. Aku mau keluar di dalam.”
Aku panik sebentar. “Jangan… Mas… aku nggak minum pil…”
“Tapi memeknya bilang lain. Dia nganga minta diisi sperma.”
Dia mempercepat lagi. Suara plok-plok basah semakin kencang. Aku merasakan kontolnya berdenyut di dalam.
“Aaaarghhh… keluar…!”
Sperma panas menyemprot dalam-dalam. Banyak sekali, terasa mengalir sampai ke rahim. Dia menyemprot berkali-kali, sampai memekku penuh dan kelebihan menetes keluar membasahi pahaku.
Dia tarik keluar pelan. Memekku merah bengkak, sperma putih kental menetes dari lubang yang masih menganga. Aku ambruk di ranjang, napas tersengal.
Dia membelai punggungku. “Besok malam aku datang lagi. Kali ini aku bawa temen satu. Biar Kak Rina tahu rasanya dua kontol sekaligus.”
Aku menoleh lemah, mata berkaca-kaca. “Mas… jangan…”
Tapi di antara paha, memekku berkedut lagi mendengar kata-kata itu.
Dia tersenyum, mencium keningku.
“Tidur dulu, jalang kecil. Besok malam baru mulai sesi yang sesungguhnya.”
Pintu kamar ditutup pelan. Hujan masih deras di luar. Aku terbaring, tubuh lemas, memek masih berdenyut penuh sperma, dan pikiranku… tak bisa berhenti membayangkan apa yang akan terjadi besok malam.
Malam berikutnya datang terlalu cepat. Aku menghabiskan seharian dalam keadaan gelisah. Setiap kali duduk, memekku masih terasa perih dan bengkak dari semalam—lubangnya seperti belum pulih sepenuhnya, tapi setiap kali mengingat denyutan kontol Mas Dika yang panas dan tebal, cairan hangat langsung merembes lagi ke celana dalam. Aku ganti celana dalam tiga kali seharian karena basah terus. Malu sekali, tapi tak bisa bohong: tubuhku sudah ketagihan.
Aku mandi dua kali sore itu, berusaha membersihkan sisa-sisa sperma yang masih terasa lengket di dalam. Tapi semakin kugosok dengan sabun, semakin aku teringat suara plok-plok basah dan desahan Mas Dika di telingaku. Putingku mengeras sendiri di bawah guyuran air hangat. Aku hampir saja mengocok memekku di kamar mandi, tapi kutahan. Aku ingin simpan tenaga… untuk malam ini.
Jam delapan malam, hujan sudah reda. Udara masih lembab, bau tanah basah masuk lewat jendela kamar yang kubuka sedikit. Aku pakai baju yang sengaja kupilih untuk “menggoda tanpa terlihat menggoda”: gamis hitam polos longgar, tapi bahannya tipis katun Jepang yang agak tembus pandang kalau kena cahaya lampu. Di dalamnya aku pakai bra renda hitam tipis yang hanya menutupi separuh payudara—putingku hampir tembus kain—dan celana dalam string hitam yang talinya menjepit celah bokongku. Jilbab tetap aku pakai, model segi empat besar warna abu-abu tua, supaya tetap terlihat sopan dari luar. Tapi aku tahu, Mas Dika pasti langsung tahu apa yang ada di baliknya.
Tepat jam setengah sembilan, ada ketukan pelan di dubur—bukan pintu depan seperti kemarin. Aku deg-degan. Aku buka pintu, dan Mas Dika berdiri di sana, tersenyum miring. Di belakangnya ada seorang pria lain. Lebih tinggi sedikit dari Mas Dika, badan lebih kekar, seperti bekas angkat besi. Kulitnya lebih gelap, hampir hitam legam, rahang lebar, kumis tipis rapi, dan matanya tajam seperti preman kampung yang baik hati tapi berbahaya. Namanya Mas Andi, katanya tetangga dua rumah dari Mas Dika, usia 35 tahun, sudah menikah tapi istrinya kerja di Singapura sebagai PRT.
“Malam, Kak Rina,” sapa Mas Andi dengan suara berat. Matanya langsung turun ke dada dan pinggulku. “Dika cerita banyak soal kamu. Katanya… kamu jago ngelayanin.”
Wajahku langsung panas. Aku mundur selangkah, tapi Mas Dika sudah masuk duluan, menutup dubur, lalu mengunci.
“Jangan takut, Kak. Mas Andi cuma mau nyicip. Dia janji nggak kasar… kecuali kamu minta.”
Aku menggeleng pelan. “Mas… aku nggak yakin. Kemarin aja aku sudah lemes banget…”
Mas Dika mendekat, tangannya langsung merangkul pinggangku dari belakang. Jari-jarinya menekan perutku pelan, turun ke selangkangan. “Tapi memeknya bilang lain. Udah basah lagi kan?”
Aku menggigit bibir. Benar. Celana dalam stringku sudah licin.
Mas Andi melangkah mendekat dari depan. Dia lebih tinggi, jadi aku harus mendongak. Bau parfum kayu cendana kuat dari tubuhnya. Dia angkat daguku dengan jari telunjuk.
“Cantik banget janda hijab begini. Aku suka yang sopan di luar, jalang di dalam.”
Kata-katanya kasar, tapi entah kenapa membuat putingku semakin keras.
Mereka berdua membawaku ke kamar tanpa banyak bicara lagi. Lampu kamar aku redupkan jadi kuning temaram. Ranjang double sudah kusut dari semalam—sprei masih ada noda basah kecil dari cairanku.
Mas Dika mendorongku duduk di pinggir ranjang. Mas Andi berdiri di depanku, langsung membuka resleting celana jeansnya. Kontolnya langsung melompat keluar—lebih pendek dari Mas Dika, mungkin 16 cm, tapi lebih tebal, kepalanya besar seperti jamur, urat-uratnya menonjol kasar. Bau maskulinnya lebih kuat, campur keringat dan sedikit aroma sabun mandi.
“Hisap dulu, Kak. Biar aku basah sebelum masuk,” perintah Mas Andi.
Aku ragu sebentar. Tapi Mas Dika sudah di belakangku, menarik jilbabku pelan sampai terlepas, rambutku tergerai. Dia bisik di telingaku, “Kamu bisa, jalang kecil. Tunjukin ke Mas Andi betapa pintar mulutmu.”
Aku membuka mulut pelan. Kepala kontol Mas Andi masuk, panas dan berat di lidahku. Rasanya asin, sedikit amis, tapi membuat kepalaku pusing nikmat. Aku mulai mengulum pelan, lidah berputar di kepala kontolnya. Dia mendesah keras.
“Bagus… dalam lagi, Kak. Sampai tenggorokan.”
Aku mencoba deepthroat. Kontolnya tebal, membuat rahangku nyeri, tapi aku tahan. Air mata keluar sedikit karena mual, tapi memekku malah semakin basah. Mas Dika di belakang sudah menarik gamisku ke atas, meremas bokongku dari luar celana dalam string.
“Pantatnya empuk banget. Aku mau main di sini juga nanti,” katanya sambil menampar bokongku pelan.
Mas Andi mulai menggerakkan pinggul, mengentot mulutku pelan dulu, lalu semakin cepat. Suara gluk-gluk basah terdengar setiap kali kontolnya masuk ke tenggorokan. Aku megap-megap, tapi tak menolak. Malah tanganku meraih paha Mas Andi, menariknya lebih dalam.
Tiba-tiba Mas Dika menarikku mundur. Kontol Mas Andi keluar dari mulutku dengan bunyi “pop” basah, air liur menetes ke dagu dan payudaraku.
“Sekarang giliran Kak Rina yang dimanjakan,” kata Mas Dika.
Mereka berdua mendorongku telentang di ranjang. Mas Dika menarik gamis dan bra-ku sekaligus. Payudaraku terbebas, bergoyang-goyang. Puting cokelat tua besar sudah mengeras seperti batu. Mas Andi langsung menjilat puting kiri, menggigit pelan sampai aku menjerit kecil. Mas Dika ke puting kanan, menghisap keras sambil jarinya turun ke memekku.
Celana dalam string sudah dilepas. Jari tengah Mas Dika langsung masuk ke lubang memekku yang masih licin dari semalam. Dia mengocok cepat, dua jari, lalu tiga. Suara ceklek-ceklek basah terdengar.
“Memeknya udah longgar sedikit gara-gara kemarin. Tapi masih sempit banget,” komentarnya.
Mas Andi naik ke atas wajahku. “Duduk di muka Kak Rina, Dika. Biar dia jilat memeknya juga.”
Tidak. Mas Andi yang naik ke wajahku, tapi bukan memek—kontolnya yang digosok-gosokkan ke bibirku lagi. Sementara Mas Dika membuka kakiku lebar-lebar, menjilat memekku ganas. Lidahnya masuk dalam-dalam, menghisap klitorisku sampai aku menggelinjang hebat.
Aku orgasme pertama malam itu dalam posisi itu—cairan muncrat ke muka Mas Dika. Dia tertawa, menjilat semuanya.
“Squirt lagi, Kak. Aku suka liat kamu banjir.”
Lalu mereka ganti posisi. Aku dibalik doggy style. Mas Dika di belakang, kontolnya langsung menusuk memekku dari belakang. Keras, dalam sekali. Aku menjerit.
“Aaaahhh… Mas… besar…!”
Mas Andi di depan, memasukkan kontolnya ke mulutku lagi. Sekarang aku diapit dua kontol sekaligus—satu di memek, satu di mulut. Mereka mengentot bergantian ritme. Saat Mas Dika dorong dalam, Mas Andi tarik keluar dari mulut, lalu sebaliknya. Tubuhku bergoyang-goyang seperti boneka.
Suara plok-plok basah dari memek, gluk-gluk dari mulut, desahan mereka berdua, jeritanku yang tertahan—semuanya memenuhi kamar.
Mas Dika menampar bokongku berkali-kali. “Bilang kamu budak kontol kami berdua!”
Aku megap-megap, mulut penuh kontol. “Mmmph… iya… aku budak kontol kalian…”
Mas Andi tertawa. “Bagus. Sekarang kita coba yang lebih dalam.”
Mereka tarik aku ke posisi sandwich. Mas Dika telentang di ranjang, aku naik ke atasnya, memekku menelan kontolnya lagi. Lalu Mas Andi di belakangku. Jari-jarinya mengoles ludah ke lubang anusku.
Aku panik. “Mas… jangan di situ… aku belum pernah…”
“Tenang, Kak. Pelan-pelan. Kamu pasti suka.”
Dia dorong pelan. Kepala kontolnya masuk ke anusku. Sakit luar biasa, tapi juga penuh aneh yang nikmat. Aku menangis, tapi pinggulku malah maju sendiri. Akhirnya masuk separuh. Aku merasa terbelah dua—memek penuh kontol Mas Dika, anus penuh kontol Mas Andi.
Mereka mulai menggerakkan pinggul bersamaan. Double penetration pertama dalam hidupku. Rasa sakit bercampur nikmat gila. Aku orgasme lagi, kali ini lebih hebat—cairan muncrat deras, membasahi perut Mas Dika.
“Aaaarghhh… hancur… memekku… pantatku… hancurkan akuuu!”
Mereka mempercepat. Tubuhku gemetar tak terkendali. Bau keringat, aroma memek basah, sperma yang mulai menetes, semuanya memabukkan.
Mas Dika keluar duluan. Sperma panas menyemprot dalam memekku, banyak sekali sampai menetes keluar. Mas Andi menyusul, menarik kontol dari anus, lalu menyemprotkan sperma ke punggung dan bokongku. Cairan putih kental menetes ke sprei.
Aku ambruk di atas Mas Dika, napas tersengal, tubuh lemas total. Memek dan anus masih berdenyut, penuh sperma dan cairan.
Mas Andi membelai rambutku. “Besok malam lagi, ya Kak? Kali ini kita ajak satu orang lagi. Biar kamu tahu rasanya tiga sekaligus.”
Aku tak bisa bicara. Hanya mengangguk lemah, mata berkaca-kaca.
Mas Dika mencium bibirku pelan. “Kamu udah jadi milik kami sekarang, Kak Rina. Janda hijab yang paling nakal di komplek.”
Mereka berpakaian, meninggalkanku telanjang di ranjang, tubuh penuh bekas merah tamparan, sperma menetes dari dua lubang, dan pikiran yang sudah tak bisa kembali normal.
Di luar jendela, angin malam bertiup pelan. Aku tahu, besok malam… aku akan menunggu mereka lagi.
Malam ketiga terasa seperti mimpi buruk yang manis. Aku sudah tak lagi berpura-pura menolak. Sejak pagi, tubuhku gelisah tak karuan. Memek dan anus masih perih, tapi perih itu justru membuatku terus-terusan mengingat dua kontol yang menghancurkan malam sebelumnya. Aku mandi lama sekali, menggosok tubuh dengan sabun wangi mawar, tapi tanganku sendiri yang nakal—jari tengah masuk pelan ke memek, mengocok pelan sambil membayangkan apa yang akan terjadi malam ini. Aku orgasme kecil di kamar mandi, air campur cairan bening mengalir ke selokan.
Aku memilih pakaian paling berani yang pernah kupakai di rumah sendiri: lingerie set merah darah yang kubeli diam-diam dua tahun lalu, tak pernah dipakai karena malu. Bra push-up renda transparan, payudara terangkat tinggi, putting cokelat tua terlihat jelas di balik kain tipis. Celana dalam thong renda yang hampir tak menutupi apa-apa, talinya menjepit celah bokong sampai terlihat garis pantat montokku. Di atasnya aku pakai kimono satin hitam pendek yang terbuka di depan, dan jilbab tetap—kali ini model pashmina warna merah marun yang kusemat rapi. Aku ingin terlihat seperti perempuan soleh yang siap dilucuti.
Jam sembilan lewat lima belas menit, ketukan di dubur lagi. Kali ini lebih berat, seperti tiga orang. Jantungku berdegup kencang sampai terasa di tenggorokan.
Aku buka pintu. Mas Dika berdiri di depan, di belakangnya Mas Andi, dan satu pria lagi yang belum pernah kulihat. Namanya Mas Reza, katanya teman lama Mas Dika dari gym. Usia sekitar 30 tahun, badan paling berotot di antara mereka—dada bidang, lengan seperti besi, perut six-pack terlihat samar di balik kaus ketat. Kulitnya kuning langsat, rambut cepak pendek, dan tatapannya paling ganas. Dia sudah menikah juga, tapi istrinya sedang hamil besar di kampung halaman.
“Malam, Kak Rina,” sapa Mas Reza dengan suara dalam. Matanya langsung menelusuri tubuhku dari atas ke bawah. “Dika bilang kamu udah siap buat level selanjutnya.”
Aku menelan ludah. “Mas… tiga orang… aku takut nggak kuat.”
Mas Dika tersenyum, masuk duluan, menarik tanganku ke dalam. “Kamu kuat, jalang kecil. Malam ini kita bikin kamu lupa nama sendiri.”
Mereka mengunci pintu, langsung membawaku ke ruang tamu dulu—bukan kamar. Lampu ruang tamu aku matikan, hanya lampu meja kecil yang kuning redup. Mereka suruh aku berdiri di tengah karpet.
“Lucuti kimononya pelan-pelan,” perintah Mas Andi.
Aku gemetar, tapi tanganku patuh. Kimono satin jatuh ke lantai. Tubuhku terpampang dalam lingerie merah, payudara naik turun cepat, memek sudah basah sampai celana dalam thong terlihat gelap di bagian tengah.
Mas Reza mendesis. “Ya Tuhan… pantatnya lebih gede dari yang diceritain. Bokong janda emang beda.”
Mereka mendekat bersamaan. Mas Dika dari depan, mencium bibirku ganas sambil meremas payudaraku. Mas Andi dari samping kiri, menarik bra ke bawah, menghisap putting kiri keras. Mas Reza dari belakang, tangannya meremas bokongku, jari-jarinya langsung menyusup ke celah pantat, menekan lubang anus yang masih sensitif.
Aku mendesah keras di antara ciuman. “Uhh… Mas… pelan…”
“Pelan apaan? Kamu udah banjir dari tadi,” kata Mas Reza sambil menampar bokongku keras. Plak! Plak! Suara tamparan bergema.
Mereka menyeretku ke sofa panjang. Aku didudukkan di pangkuan Mas Dika, menghadap ke depan. Kontolnya sudah keluar, tegak keras. Dia menarik thong ke samping, memasukkan kontolnya pelan ke memekku. Aku menggelinjang saat masuk penuh—rasa penuh lagi, panas, tebal.
Mas Andi berdiri di depanku, kontolnya langsung dimasukkan ke mulut. Aku mengulum sambil memekku digoyang-goyang pelan oleh Mas Dika. Mas Reza naik ke sofa, berdiri di samping, kontolnya—yang paling panjang, mungkin 19 cm, urat-urat tebal seperti tali—dia gosok-gosokkan ke pipiku, ke leherku, ke payudaraku.
“Jilat semuanya, Kak. Kita mau kamu puasin tiga sekaligus,” katanya.
Aku bergantian mengulum ketiganya. Mulutku penuh, air liur menetes ke dagu, ke payudara. Mereka bergantian masuk ke mulut, kadang dua kontol sekaligus menekan bibirku, membuat rahangku nyeri tapi nikmat luar biasa.
Lalu mereka angkat aku ke meja makan—meja kayu jati panjang di ruang makan yang jarang kupakai. Aku dibaringkan telentang, kakiku dibuka lebar ke dua sisi meja. Mas Dika naik ke atas meja, menusuk memekku lagi dari depan. Mas Andi di samping kepala, mengentot mulutku. Mas Reza naik dari belakang, mengoles ludah ke anusku, lalu mendorong masuk pelan.
Double penetration lagi, tapi kali ini dengan posisi yang lebih terbuka. Memek dan anus terisi penuh, payudaraku diremas-remas, putting dijepit, ditarik. Aku menjerit tertahan setiap dorongan.
“Lebih keras… hancurkan aku… aku budak kontol kalian!” teriakku sendiri, sudah tak peduli malu lagi.
Mereka mempercepat. Suara plok-plok basah dari memek dan anus, gluk-gluk dari mulut, tamparan di bokong dan payudara, desahan mereka yang semakin liar—semuanya bercampur jadi simfoni nafsu.
Aku orgasme berkali-kali. Pertama muncrat kecil, kedua lebih deras sampai membasahi perut Mas Dika, ketiga aku hampir pingsan—cairan bening menyemprot seperti air mancur, membasahi meja dan lantai.
“Dia squirt lagi! Jalang ini nggak ada habisnya!” kata Mas Reza sambil terus mengentot anusku.
Mereka ganti posisi berkali-kali. Aku diangkat, diputar, dibalik. Ada saatnya aku doggy di lantai, satu kontol di memek, satu di anus, satu di mulut. Ada saatnya aku diangkat seperti boneka, dua kontol di memek dan anus sekaligus—double vaginal dan anal—sambil mulutku diisi yang ketiga. Rasa terbelah, penuh, sakit nikmat yang tak tertahankan.
Akhirnya mereka tak tahan lagi.
Mas Dika keluar duluan, menarik kontol dari memek, menyemprotkan sperma panas ke perut dan payudaraku. Banyak, kental, putih susu menetes ke samping.
Mas Andi menyusul, keluar di mulutku. Aku menelan sebagian, sisanya menetes ke dagu dan leher.
Mas Reza yang terakhir—dia menarik dari anus, memosisikan kontol di atas wajahku, lalu menyemprotkan sperma tebal ke wajah, rambut, dan jilbab merah yang masih kusemat setengah. Sperma menetes ke mata, ke bibir, ke leher. Bau asin kuat memenuhi hidungku.
Aku ambruk di lantai, tubuh gemetar, napas tersengal. Memek merah bengkak, anus terbuka lebar, sperma menetes dari kedua lubang dan wajah. Payudara penuh bekas gigitan dan remasan, bokong memerah karena tamparan.
Mereka bertiga berdiri di sekitarku, napas masih berat.
Mas Dika membungkuk, mencium keningku yang penuh keringat dan sperma. “Kamu luar biasa, Kak Rina. Kita nggak akan berhenti di sini. Besok… mungkin kita bawa lebih banyak lagi. Atau kita rekam supaya kamu bisa nonton sendiri tiap malam.”
Aku tak bisa bicara. Hanya mengangguk lemah, mata berkaca-kaca campur malu, puas, dan ketagihan yang sudah tak bisa disembunyikan lagi.
Mereka berpakaian, meninggalkanku telanjang di lantai ruang makan, tubuh penuh cairan mereka, aroma seks memenuhi seluruh rumah.
Dubur ditutup pelan.
Aku terbaring lama di sana, mendengar detak jantung sendiri yang masih kencang. Di luar, angin malam bertiup sepoi, membawa bau hujan yang akan datang lagi.
Aku tahu, mulai malam ini, aku bukan lagi janda hijab yang soleh di mata tetangga.
Aku adalah milik mereka.
Dan aku… tak ingin berhenti.
Tamat.





